"Angka inflasi terbaru tidak memberikan alasan bagi BI untuk menaikkan BI Rate," jelas Samuel Ringoringo, ekonom dari BII dalam laporan mingguannya yang dikutip detikFinance, Selasa (6/4/2010).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama Maret terjadi 0,14% akibat turunnya harga-harga barang-barang dan makanan. Dengan begitu besaran inflasi kumulatif Januari-Maret 2010 0,99%, sementara inflasi year on year pada Februari 2010 adalah 3,43%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, BI sudah memegang posisi BI Rate di kisaran 6,5% sejak Agustus 2009. BI Rate sempat mencapai 9,5% pada Oktober 2008 lalu ketika krisis finansial global menggila. Namun setelah itu, BI secara perlahan menurunkan suku bunga mulai Desember 2008.
Dengan posisi BI Rate 6,5% di tengah likuiditas yang masih berlebihan di pasar, Samuel memperkirakan nilai tukar rupiah bisa terus menguat. Menurutnya, suku bunga yang stabil akan menstimulasi modal dan permintaan di pasar surat utang.
"Aliran modal asing bisa terus mengalir karena likuiditas global masih tetap tinggi paling tidak hingga semester II-2010. Ini berarti ada ruang bagi rupiah untuk terus menguat," jelasnya.
Meski demikian, Samuel mengingatkan BI akan berupaya untuk mencegah apresiasi rupiah yang terlalu cepat karena akan merugikan eksportir dan importir.
"Sehingga, kami masih melihat rupiah akan bergerak pada kisaran 9.040-9.130 per dolar AS pada pekan ini," imbuh Samuel.
Pada perdagangan Senin, rupiah ditutup menguat tipis ke level 9.065 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.070 per dolar AS. Rupiah pagi tadi sempat menguat hingga 9.045 per dolar AS.
(qom/qom)











































