Dalam fit and proper test tersebut, Komisi XI akan memfokuskan mengenai tiga hal yakni seputar kondisi umum perbankan, moneter dan ekonomi makro.
Demikian diungkapkan Wakil Ketua Komisi XI Akhsanul Qasasi ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Jumat (08/04/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akhsanul mengatakan, selain tiga hal yang menjadi fokus utama Komisi XI yakni seputar kondisi umum perbankan, moneter dan ekonomi makro, DPR akan mengulas tuntas mengenai latar belakang dari masing-masing calon.
"Kita akan lihat dari background mereka juga sesuai dengan CV (Curriculum Vitae) dari masing-masing calon. Intinya kita ingin Deputi Gubernur BI yang kredibel," jelasnya.
Khusus untuk Halim Alamsyah, lanjut Akhsanul, Komisi XI telah mempunyai catatan tersendiri karena kasus Century. Akhsanul menjelaskan, status Halim pada saat adanya Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century Halim dipanggil sebagai saksi.
"Sehingga, nanti dalam pemilihannya di Komisi XI kita akan menggali lebih dalam sejauh mana dirinya terlibat di dalam kasus Bank Century. Halim pasti mengetahui kasus-kasus di dalam Bank Century," jelas Akhsanul.
Seperti diketahui, pemerintah telah mengirim 3 nama untuk menjadi calon Deputi Gubernur BI, yang akan menggantikan Siti Fadjrijah. Ketiga calon Deputi Gubernur itu adalah:
- Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah
- Direktur Riset Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo
- Komisaris PT Bank Danamon Tbk Krisna Wijaya.
Halim Alamsyah saat ini menjabat sebagai Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI. Pria kelahiran Sungai Liat 6 Maret 1957 ini menempuh pendidikan S1 di UGM dan UII, kemudian melanjutkan Master di Boston University Amerika.
Belakangan nama Halim sering disebut-sebut di kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terutama oleh Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Kasus Bank Century dimana dirinya sewaktu Rapat Dewan Gubernur membahas mengenai pengaruh dampak sistemik Bank Century.
Sedangkan Perry Warjiyo memulai karir di Bank Indonesia dimulai sejak tahun 1984 sebagai staff perencanaan kredit. Sebelumnya, pria lulusan Universitas Gajah Mada jurusan akuntansi ini juga pernah bekerja di dunia akunting sebagai akuntan publik. Pada tahun 1991, Perry memfokuskan studinya di bidang Moneter dan Keuangan dengan mengambil tingkat Master di Universitas Iowa di Amerika Serikat.
Ia juga sempat menjabat sebagai staf Gubernur Bank Indonesia dan menduduki salah satu jabatan di International Monetary Fund (IMF) menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Terakhir, Perry mengambil program Doktor (S3) bidang Ekonomi dan Moneter yang juga di Universitas Iowa.
Terkhir adalah Krisna Wijaya yang merupakan pemimpin pertama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Namun ia memilih mundur dari jabatan Kepala Eksekutif karena ingin mengejar target menjadi dokter dibidang mikro banking. Krisna seharusnya masih mengemban Kepala Eksekutif LPS hingga 22 September 2009. Praktis mantan direktur BRI ini hanya bertugas selama dua tahun di LPS sejak sejak tanggal 22 September 2005 yakni saat LPS resmi beroperasi pertama kali.
Krisna juga pernah menjabat direktur Lembaga Pendidikan Perbankan Indonesia (LPPI) pada 2005 dan kepala eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (2005-2007). Saat ini dia menjabat sebagai komisaris PT Bank Danamon Tbk.
(dru/qom)











































