Penguatan Rupiah Bisa Hambat Pertumbuhan Ekonomi

Penguatan Rupiah Bisa Hambat Pertumbuhan Ekonomi

Ramdhania El Hida - detikFinance
Rabu, 14 Apr 2010 19:25 WIB
Jakarta - Penguatan rupiah yang tidak terkendali dapat membuat angka pertumbuhan ekonomi indonesia menjadi terhambat. Tidak hanya itu, bahkan laju ekspor pun diperkirakan melambat.

"Jika rupiah terlalu menguat maka akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan ekspor," ujar Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution saat Rapat Kerja dengan Komisi XI, DPR RI, di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (14/4/2010).

Darmin menilai, jika nilai tukar rupiah sampai dengan akhir tahun rata-rata berada pada angka Rp 9.000 per Dolar Amerika Serikat, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan hanya berada pada level 5,5%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah pihaknya bertanya kepada pada eksportir berapa angka yang cukup pas, lanjut Darmin, maka angka rata-rata  Rp 9.200 rupiah perdolar adalah angka yang bisa diterima.

"Sekarang ini memang menguat tetapi secara rata-rata per triwulan angkanya masih berada pada level Rp 9254, dan itu masih dalam range," ujarnya.

Darmin menegaskan, walaupun demikian bukan berarti BI akan mematok angka pasti nilai tukar Rupiah tersebut. Pihaknya akan hanya mengendalikan supaya jika rupiah menguat tidak terlalu menguat, begitupun jika melemah.

"Kalau terlalu jauh kita dorong ke atas sehingga tidak merugikan pihak tertentu dalam perekonomian kita. Kalau rupiah kuat maka eksportir merasa dirugikan dan bilai nilai tukar rupiah terlalu lemah maka importir juga kurang bergembira," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pelemahan rupiah dapat berdampak terhadap perhitungan APBN. Dampaknya, jika asumsi rupiah meleset Rp 1000 maka dapat memengaruhi postur APBN Rp 3 triliun sampai dengan Rp 4 triliun.

"Namun jika terlalu rendah dapat juga mengakibatkan resiko fiskal. Jadi kalau saat ini pergerakan rupiah di Rp 9.000 sampai Rp 9.500 maka titik tengah di Rp 9.250 sampai Rp 9.300," pungkasnya.

(nia/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads