Transaksi Pengadaan Barang dan Jasa Hulu Migas Capai US$ 4,69 Miliar

Transaksi Pengadaan Barang dan Jasa Hulu Migas Capai US$ 4,69 Miliar

- detikFinance
Kamis, 15 Apr 2010 10:19 WIB
Jakarta - Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) mencatat jumlah transaksi pembayaran kontrak pengadaan barang dan jasa  di sektor hulu migas melalui bank BUMN mencapai US$ 4,69 miliar atau sekitar Rp 45 triliun.

"Sejak Juni 2009 hingga kini, kami mencatat transaksi pembayaran melalui bank BUMN seperti Bank Mandiri, BNI dan BRI sebesar US$ 4,69 miliar," ujar Wakil Kepala BP Migas, Hardiono.

Ia menyampaikan hal itu dalam acara workshop 'Financial Breakthrough untuk Pembiayaan Kepada Penyedia Barang dan Jasa Dalam Negeri pada Kegiatan Usaha Hulu Migas' di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (15/4/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan catatan BP Migas, transaksi pengadaan barang dan jasa yang dilakukan melalui bank BUMN mulai 1 Juni 2009 hingga 9 April 2010 untuk bank Mandiri  sebesar US$ 3,161 miliar, diikuti BNI US$ 565,266 juta, kemudian BRI sebesar US$ 522,35 juta, Syariah Mandiri US$ 291,308 juta dan konsorsium Mandiri dan BNI US$ 84,62 juta.

Sementara untuk  jumlah dana abandoment dan site restoration  sektor hulu migas yang ditempatkan di ketiga bank BUMN tersebut mencapai US$ 141,45 juta. Dengan rincian Bank Mandiri US$ 50,159 juta, BNI US$ 24,036 juta, dan BRI US$ 67,253 juta.

Hardiono meyakini  keterlibatan bank-bank BUMN dalam kegiatan sektor hulu migas akan terus meningkat, seiring dengan komitmen BP Migas  untuk terus mendukung dan mengembangkan industri nasional untuk lebih bersaing baik di tingkat nasional, regional dan internasional.

Untuk itu, Hardiono berharap agar bank BUMN tersebut  dapat  memberikan  bunga yang kompetitif dibandingkankan bank swasta maupun bank asing.

"Akan lebih baik jika bank BUMN dapat menarik dana murah dari  dalam dan luar negeri untuk membiayai semua kegiatan perminyakan di Indonesia," ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Hardiono juga meminta kepada para penyedia barang dan jasa lebih berperan aktif meningkatkan kualitas produknya sehingga mampu memenuhi kebutuhan KKKS.

"Perlu ada perubahan perilaku. Jangan hanya sebaai agen dari luar negeri, tapi jadi pengusaha yang mampu memproduksi barang dan jasa untuk  memenuhi kebutuhan dalam negeri," ungkapnya. (epi/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads