"Sejak Juni 2009 hingga kini, kami mencatat transaksi pembayaran melalui bank BUMN seperti Bank Mandiri, BNI dan BRI sebesar US$ 4,69 miliar," ujar Wakil Kepala BP Migas, Hardiono.
Ia menyampaikan hal itu dalam acara workshop 'Financial Breakthrough untuk Pembiayaan Kepada Penyedia Barang dan Jasa Dalam Negeri pada Kegiatan Usaha Hulu Migas' di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (15/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara untuk jumlah dana abandoment dan site restoration sektor hulu migas yang ditempatkan di ketiga bank BUMN tersebut mencapai US$ 141,45 juta. Dengan rincian Bank Mandiri US$ 50,159 juta, BNI US$ 24,036 juta, dan BRI US$ 67,253 juta.
Hardiono meyakini keterlibatan bank-bank BUMN dalam kegiatan sektor hulu migas akan terus meningkat, seiring dengan komitmen BP Migas untuk terus mendukung dan mengembangkan industri nasional untuk lebih bersaing baik di tingkat nasional, regional dan internasional.
Untuk itu, Hardiono berharap agar bank BUMN tersebut dapat memberikan bunga yang kompetitif dibandingkankan bank swasta maupun bank asing.
"Akan lebih baik jika bank BUMN dapat menarik dana murah dari dalam dan luar negeri untuk membiayai semua kegiatan perminyakan di Indonesia," ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Hardiono juga meminta kepada para penyedia barang dan jasa lebih berperan aktif meningkatkan kualitas produknya sehingga mampu memenuhi kebutuhan KKKS.
"Perlu ada perubahan perilaku. Jangan hanya sebaai agen dari luar negeri, tapi jadi pengusaha yang mampu memproduksi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," ungkapnya. (epi/qom)
