Demikian disampaikan oleh Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indoenesia Halim Alamysah dalam diskusi perkembangan perbankan di Gedung Bank Indonesia, Jalan Budi Kemulyaan, Jakarta, Selasa (20/04/2010).
"DPK perbankan sejalan dengan adanya pembayaran pajak sedikit menurun Rp 0,9 triliun sampai dengan 13 April 2010 menjadi sebesar Rp 1.962 triliun jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya yakni sekitar Rp 1.963 triliun," ujar Halim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Giro dan tabungan turun masing-masing Rp 2,1 triliun dan Rp 1,4 triliun, namun deposito naik Rp 2,7 triliun menjadi sebesar Rp 931,12 triliun," jelasnya.
Ia menambahkan, kenaikan deposito ini memperlihatkan masyarakat cenderung memindahkan dananya ke deposito dari tabungan dan giro. "Ada shifting (peralihan) ke deposito," katanya.
Namun Halim mengatakan dibandingkan periode yang sama tahun 2009, DPK mengalami kenaikan sebesar 11,31% atau sebesar Rp 200 triliun.
Lebih lanjut Halim mengatakan, kondisi likuiditas perbankan nasional masih cukup kuat dan membaik. Terlihat beberapa indikator seperti risiko pasar yang stabil dimana nilai tukar dan harga Surat Utang Negara (SUN) yang terus menguat dan meningkat.
"Nilai tukar membaik, terjadi peningkatan investasi juga terutama oleh asing pada aset rupiah dan berdasarkan informasi yang dikumpulkan ada inflow sebesar Rp 13,2 triliun hingga 20 April 2010 ini. Kurs juga menunjukkan penguatannya ke level 9.000 selama seminggu ini," papar Halim.
Selain itu, lanjut Halim suku bunga pasar uang antar bank (PUAB) yang dulu cenderung mengalami kenaikan saat ini relatif stabil di level 6%. "Risiko terus terkendali dan likuiditas perbankan sangat kuat saat ini," tandasnya.
(dru/dnl)











































