Industri perbankan di Indonesia mengharapkan munculnya biro kredit baru di Indonsia, yang merupakan bentuk sempurna dari sistem informasi debitur (SID) yang dibentuk Bank Indonesia (BI).
Wakil Direktur Utama PT Bank Danamon sekaligus steering committe Apconex VI Jos Luhukay mengatakan, acara Acara Asia Pacific Conference & Exhibition (Apconex) VI yang akan diadakan besok diharapkan akan menelurkan munculnya biro kredit baru tersebut.
"Tapi pembentukan Credit Bureau for Indonesia ini akan menjadi bentuk yang lebih sempurna dari SID yang selama ini ada di BI," kata Jos dalam jumpa pers di JCC Senayan, Jakarta, Senin (27/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi, jauh lebih lengkap dari yang sekarang. Ini kita harapkan menjadi terobosan dari Apconex VI tahun ini," ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia menjadi negara yang paling lambat di Asia dalam membentuk biro kredit milik negaranya. Selama ini, ada beberapa biro kredit yang dimiliki oleh swasta namun cakupannya sangat kecil.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komite Apconex 2010 Eko Indrajit mengatakan, Apconex VI akan diresmikan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa esok Rabu (28/4/2010). Tema yang diangkat kali ini "Financial Services Enchancment to Accelearte Economic Recovery"
Sesuai dengan tema tahun ini, diharapkan Apconex 2010 dapat dijadikan sarana untuk menggali kontribusi dari sektor perbankan dalam mendukung kondisi perekonomian secara keseluruhan pasca krisis keuangan global.
Beberapa topik diskusi terkini yang akan diangkat pada Apconec 2010 di antaranya, policy to bosst real sector growth, a new national credit bureau for Indonesia, the new accounting and financial reporting sistem, technology optimization for the rural banking sector dan lain-lain.
Ia mengatakan, melalui ajang ini diharapkan terjalin komunikasi dan diskusi antara industri perbankan maupun lembaga terkait lainnya, baik dari kalangan dunia usaha, pelaku bisnis, regulator, sehingga dapat mempertajam kompetensi industri perbankan nasional, guna menjawab tantangan dan perkembangan perekonomian di tahun 2010 maupun masa mendatang.
"Diharapkan pelaku perbankan nasional, baik konvensional, syariah dan BPR, dapat meningkatkan kontribusi dalam upaya mendukung perkembangan sektor riil serta perekonomian nasional Indonesia," imbuhnya.
Pada Apconex 2010 esok, dapat disaksikan perkembangan perbankan nasional maupun teknologi pendukung perbankan, sebagaimana dapat dijumpai pada anjungan pameran beberapa perusahaan, seperti Securemetric technology yang mengusung spesialisasi di sektor sekuriti digital,
Lalu ada Sybase dengan spesialisasi di bidang mobile messaging and mobile commerce. APC solutions mencakup uninterruptible power supplies (UPS),precision cooling-units, racks physical security and design and management software, termasuk APCs .lnfraStruxure®, architecture, solusi manajemen yang komprehensif dan terintegrasi.
lnternetprovider diusung oleh 3 perusahaan lcon plus, 3G Network ( PT Citra-Sari Makmur) dan Biznet. IT business solution management dapat dilihat di PT Hexaon Business Mitrasindo, ESCI Business Services lnc. PT OTI, PT Praisindo Technology.
Di tempat yang sama, Ketua Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Sigit Pramono berharap pembentukan biro kredit baru di Indonesia bisa mulai beroperasi di triwulan II-2011 atau maksimal 18 bulan dari sekarang.
"Harapan kita maksimal 18 bulan akan terbentuk, mungkin bisa lebih pendek," katanya.
Ia mengatakan, di dunia internasional pada umumnya biro kredit tersebut dibentuk dan dijalankan oleh para pelaku industri, bukan regulator seperti yang terjadi di Indonesia. Selain sebagai pusat informasi debitur dan calon debitur, biro kredit itu juga diharapkan bisa menjadi tempat pemeringkat debitur.
"Sekarang ini sering ada masalah pencairan kredit yang lambat, itu kenapa? Karena kurangnya informasi mengenai debitur," jelasnya. (ang/dnl)











































