Demikian disampaikan oleh Direktur Perijinan dan Informasi Perbankan Bank Indonesia (BI) Joni Swastanto dalam sebuah diskusi di sela acara Asia Pacific Banking Conference & Exhibition (Apconex) di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu (28/04/2010).
"Yang tercatat dalam record di SID ada 43,9 juta debitur dimana dikumpulkan dari anggota-anggota pemasok data sebanyak 1.010 entitym. 1.010 entitym tersebut terdiri dari 121 bank umum, 879 BPR dan 10 perusahaan pembiayaan," kata Joni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Joni menambahkan, dari 43,9 juta debitur tersebut ada yang mendapatkan fasilitas kredit lebih dari satu entitym. "Sehingga jika dijumlahkan seluruhnya ada 75,4 juta data-data para debitur yang mendapatkan fasilitas kredit di bank-bank maupun perusahaan multifinance," katanya.
Dikatakan Joni, tahun 2010 bank sentral tengah mengembangkan sistem maupun jaringan dari debitur-debitur termasuk dari pengembangan data-data non bank. "Sampai nantinya kepada data-data yang ada di publik utilities seperti di PLN dan Telkom," jelas Joni.
Ia juga menjelaskan, SID merupakan salah satu jenis kredit biro penyedia data-data debitur. Di beberapa negara, lanjut Joni, dinamakan PCR (Public Credit Registry) yang memang dimiliki oleh central bank atau lembaga yang mengawasi bank.
"Kemudian ada juga jenis biro kredit lain yakni Credit Burreau (CB) dimana dikelola oleh swasta seperti di Australia," jelasnya.
Yang lebih baik, sambung Joni yakni perpaduan antara PCR dan CB (Dual System) yang akan dibentuk di Indonesia ini. "Sehingga nantinya data yang didapat akan lebih akurat karena mengkombinasikan data dari bank sentral dan data dari pihak swasta," paparnya.
Tiga Asosiasi Sepakat Bentuk Biro Kredit
Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas), Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dan Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mendirikan lembaga biro kredit.
Wakil Direktur Utama PT Bank Danamon sekaligus steering committe Apconex VI Jos Luhukay mengatakan, acara Acara Asia Pacific Conference & Exhibition (Apconex) VI yang akan diadakan besok diharapkan akan menelurkan munculnya biro kredit baru tersebut.
"Tapi pembentukan Credit Bureau for Indonesia ini akan menjadi bentuk yang lebih sempurna dari SID yang selama ini ada di BI," kata Jos.
Menurutnya, selama ini SID yang ada saat ini hanya mencakup perbankan saja, biro kredit yang diharapkan bisa terbentuk tersebut nantinya akan memiliki cakupan lebih luas, mulai dari multifinance hingga ke berbagai jenis asuransi.
Senada dengan Jos, Sigit Pramono mengatakan dengan dibentuknya lembaga biro kredit ini nantinya perbankan akan lebih optimal dalam menyalurkan kredit. "Karena data debitur akan didapatkan secara cepat dan lengkap," pungkasnya.
(dru/dnl)











































