"Itu pendapat satu kemungkinan yang perlu diperhatikan," ujar Pjs Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution ketika ditemui di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Jumat (30/4/2010).
Namun, Darmin mengatakan hal tersebut berlum tentu terjadi di Indonesia. "Artinya, kalau capital inflow ini masuk terus, tidak ada perusahaan go public yang baru, serta kredit tidak jalan, maka itu bisa terjadi," jelas Darmin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Darmin mengatakan, Bank Indonesia akan selalu memperhatikan peringatan-peringatan dari luar termasuk IMF.
Sebelumnya, IMF memperingkatkan ekonomi Asia berisiko mengalami overheating alias kepanasan. Kuatnya aliran modal masuk ke kawasan ini dikhawatirkan bisa memicu tekanan inflasi dan meningkatkan risiko pecahnya gelembung perekonomian.
"Prospek ekonomi yang cerah dan melebarnya selisih suku bunga dengan negara-negara maju sepertinya akan terus menarik aliran modal yang lebih banyak ke kawasan Asia," jelas IMF.
"Hal ini dapat menyebabkan overheating di beberapa negara dan meningkatkan kerentanan pada booming pasar kredit dan harga aset-aset dengan risiko terjadinya pembalikan secara tiba-tiba," imbuh IMF.
Karena itu, IMF mendesak para pemimpin negara-negara Asia untuk kembali ke kebijakan moneter yang 'lebih normal' setelah sempat diterpa badai krisis finansial tahun lalu. IMF juga mendesak negara-negara Asia untuk meningkatkan fleksibilitas mata uangnya guna mengatasi aliran dana yang sifatnya spekulatif ke kawasan tersebut.
(dru/dnl)











































