Hal ini bertujuan agar setiap margin risiko dalam perhitungan bunga kredit yang diberikan oleh perbankan kepada industri tertentu lebih tepat dan efektif sehingga suku bunga bisa lebih ringan.
"Saya akan mendorong teman-teman di Bank Indonesia supaya ada kelompok kerja," kata Deputi Gebernur Senior BI Darmin Nasution saat ditemui disela-sela workshop industri keramik di Gedung BI, Kamis (6/5/2010)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan demikian dengan perhitungan margin risiko yang kurang cermat justru ada sektor industri yang seharusnya memiiliki risiko rendah namun harus dikenai biaya margin risiko yang tinggi sehingga mendapat bunga kredit yang mahal.
"Ini seharunsya tidak perlu. Perbankan tidak bisa menghitung risiko dari industri karena informasi yang tidak lengkap, informasi tak akurat dan metodenya," jelas Darmin.
Darmin mengakui, untuk menghitung masalah seperti ini merupakan sudah masuk ke tataran teknis dan perhitungannya rumit, sehingga dengan adanya kelompok kerja diharapkan akan mempermudah proses itu.
Darmin mencontohkan total kredit perbankan untuk industri keramik tahun 2009 mencapai Rp 2,246 triliun. Ia berharap dengan perhitungan margin risiko yang tepat maka perbankan bisa lebih memiliki keberanian untuk sektor ini.
Ia mengungkapkan, rata-rata suku bunga kredit untuk sektor industri atau korporasi mencapai 11,5%. Diharapkan dengan adanya perhitungan margin risiko yang tepat dan cermat maka tingkat bunga itu akan lebih rendah.
"Sekarang ini 11,5%, kalau dihitung lebih cermat bisa lebih kurang," katanya.
Khusus untuk sektor keramik ia menyatakan bahwa industri ini termasuk industri yang memiliki kelengkapan proses dari hulu hingga hilir yang semuanya diproses di dalam negeri. Namun masalah jaminan pasokan gas, sebagai bahan baku utama untuk sektor ini masih sering menjadi masalah.
(hen/ang)











































