Padahal Perum Peruri mengaku sanggup mencetak dan menerima order dari BI. Menurut berbagai sumber detikFinance di BI, latar belakang pencetakan uang ke Australia adalah karena terjadinya rush di Indonesia.
Seperti diketahui, pencetakan uang di Australia ini dilakukan BI pada tahun 1999 saat krisis ekonomi dan perbankan terjadi. Saat itu BI kesulitan uang kertas karena terjadi rush atau penarikan uang besar-besaran oleh nasabah perbankan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bank Sentral Australia tahu kita situasinya mendesak kehabisan uang. Makanya kita order uang Rp 100 ribu. Kita cetak ke luar negeri karena kita kesulitan uang," kata sumber detikFinance di BI, Selasa (25/5/2010).
Seperti diketahui, Harian The Age melansir sebuah dokumen fax rahasia dari pebisnis Jakarta ke pejabat Securency International and Note Printing Australia atau Peruri Australia mengungkapkan rencana untuk memberikan suap kepada pejabat senior BI tersebut.
Jumlah suap yang diterima oleh pejabat senior BI ini nilainya ditengarai mencapai US$ 1,3 juta atau sekitar Rp 12 miliar. Suap diberikan agar RBA memenangi tender pencetakan uang pecahan Rp 100 ribu tersebut.
Dokumen itu melansir keterlibatan pejabat BI berinisial 'S' dan 'M' dalam dugaan suap tersebut. Penelusuran suap ke BI tersebut dilakukan setelah mencuatnya suap dari pejabat RBA muncul di sejumlah negara.
Sejauh ini investigasi Australian Federal Police (AFP) memfokuskan pada suap dari Securency International senilai 20 juta dolar Australia kepada sejumlah pejabat bank sentral di Vietnam, Nigeria dan Malaysia untuk memenangkan kontrak pencetakan uang di negara-negara tersebut selama periode tahun 2003 dan 2006.
(dru/qom)











































