Cetak Uang ke Australia, BI Ngaku Tak Pernah Lewat Agen

Cetak Uang ke Australia, BI Ngaku Tak Pernah Lewat Agen

- detikFinance
Senin, 31 Mei 2010 16:01 WIB
Cetak Uang ke Australia, BI Ngaku Tak Pernah Lewat Agen
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menegaskan dalam proses pengadaan uang polymer Rp 100.000 bank sentral secara langsung berhubungan dengan Note Printing Australia (NPA) dan Securency Ltd atau Peruri-nya Australia. BI juga tidak berhubungan dengan Reserve Bank Of Australia (RBA).

Demikian diungkapkan oleh Mantan Direktur Peredaraan Uang Bank Indonesia, Herman Yoseph Susmanto dalam konferensi persnya di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (31/05/2010).

"Kita tidak berhubungan dengan RBA apalagi menggunakan agen atau seseorang yang bernama Radius Christianto," ujar Susmanto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan, dalam proses pengadaan uang pecahan Rp 100.000, BI langsung berhubungan dengan Direktur Utama Securency yakni Miles Curtis.

"Beberapa kali Miles Curtis datang ke BI dengan diantar dan menemui Gubernur langsung untuk membicarakan pengadaan uang tersebut," katanya.

Untuk diketahui, Gubernur Bank Indonesia pada saat itu adalah Syahril Sabirin.

Pengadaan uang seperti ini, lanjut Susmanto bukan merupakan hal yang baru. BI dan NPA telah menjalin kerjasama sejak tahun 1993.

"NPA dan Securency sudah sejak 1993 berhubungan dengan BI, ketika BI mencetak commemorative note pecahan Rp 50.000 dengan gambar presiden Suharto," jelasnya.

NPA dan Securency, sambung Susmanto, selalu menjalin komunikasi dengan BI dan secara teratur berkunjung ke BI antara lain menanyakan akseptibilitas pecahan Rp 50.000 tersebut.

Kasus pencetakan uang pecahan Rp 100.000 oleh pihak RBA kini memunculkan 'bau tak sedap' dan diduga bernada suap. Pejabat senior dari BI berinisial 'S' dan 'M' dikabarkan menerima suap hingga US$ 1,3Β  juta atau sekitar Rp 12 miliar untuk memenangkan kontrak pencetakan uang kepada anak usaha bank sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA).

Perwakilan anak usaha RBA di Indonesia, Radius Christanto antara tahun 1999 hingga 2006 secara eksplisit disebut mereferensikan nilai suap yang besar ke pejabat BI, seperti tertuang dalam fax ke Securency International and Note Printing Australia atau Peruri Australia pada 1 Juli 1999.

BI sudah membantah adanya suap tersebut, dan menegaskan pencetakan uang itu sudah diaudit BPK dan dinyatakan tidak ada pelanggaran. BI bahkan berniat menuntut harian The Age yang telah menyebarkan kapar tersebut.

Sementara Australian Federal Police (AFP) juga sudah berbicara dengan kedua pihak bank sentral, termasuk jurnalis The Age yang menulis berita tersebut.

(dru/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads