"Krisis Yunani dan Spanyol justru berdampak bagus ke Indonesia," ujarnya, di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, sore ini (31/5/2010).
Rahmat mengatakan krisis tersebut sempat memberi dampak negatif terhadap kuotasi surat utang negara dalam seminggu terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rahmat menilai hingga saat ini, investor masih tertarik untuk berinvestasi di Indonesia melalui surat utang.
"Tapi SBN (surat berharga negara) kita itu adalah yang paling resilien dibanding yang lain. Paling akhirlah apalagi melihat pasar saham. Itu karena pemegang obligasi kita kebanyakan adalah untuk jangka panjang," ujarnya.
Pengaruh lain, lanjut Rahmat, adalah berdampak pada gejala 'flight to quality' atau modal-modal mulai mengalir ke aset-set berharga. Kondisi ini terjadi di semua negara emerging market.
"Tapi investor kita jangka panjang, pegangnya di atas 5 tahun," ujarnya.
Mengenai posisi utang Indonesia terhadap Eropa, Rahmat mengungkapkan masih sangat minim. Sebagai informasi, utang Indonesia terhadap Eropa mencapai 5,9 euro atau ekuivalen dengan US$ 8 miliar.
"Tapi posisi utang kita ke Eropa masih aman," tukasnya.
Sementara menurut Menteri Keuangan RI Agus Martowardojo, salah satu aspek yang harus diwaspadai adalah kenyataan bahwa kondisi antar bank di Uni Eropa sudah mulai ketat.
"Kondisi inter bank di Eropa sudah mulai mengetat, itu musti diwaspadai, karena bisa-bisa persepsi risiko para investor atau masyarakat global bisa berubah dan berdampak pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia," ujar Agus.
Kendati demikian, Agus yakin Indonesia bisa melalui gonjang-ganjing di Eropa dengan baik. Caranya, lanjut Agus, dengan merealisasikan belanja negara guna menciptakan likuiditas di masyarakat.
"Pendanaan APBN sudah siap. Kita musti melakukan pengeluaran anggaran yang lebih cepat dan baik. APBN membuat stimulus karena ada tambahan dana ke masyarakat. Itu salah satu program utama kita menghadapi krisis global ini," ujarnya.
Â
Â
(dro/qom)










































