Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto yakin dapat mencapai target tersebut pada akhir tahun. Jika terdapat sisa dari penerimaan negara tersebut maka bisa dijadikan pembiayaan untuk tahun mendatang.
"Pengelolaan utang itu selalu punya target dan target itu harus dipenuhi. Kalau penyerapan belanja di bawah target, sisanya harus dikelola dengan baik sebagai salah satu bentuk refinancing pembiayaan selanjutnya," ujar Rahmat saat ditemui di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (2/6/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penerbitan secara reguler 2 minggu sekali sukuk dan SUN. Kita terbitkan sedikit-sedikit, secara teratur dan reguler. Itu penting untuk membuat benchmark di pasar yang harus di-update dalam menerbitkan SBN. Jadi kita bagi kecil-kecil supaya teratur," jelasnya.
Namun, Rahmat menegaskan Ditjen Pengelolaan Utang belum berencana kembali untuk menerbitkan Sukuk Ritel pada tahun ini dengan alasan untuk menjaga keberlangsungan instrumen utang negara lainnya.
"Kita berencana masih menerbitkan global sukuk. Kita juga punya program ORI (Obligasi Ritel Indonesia) pada Agustus. Kita harus pelihara market setiap instrumen," tukas Rahmat.
(nia/dnl)











































