Krisis Eropa Sempat Bikin Investor Ciut

Krisis Eropa Sempat Bikin Investor Ciut

- detikFinance
Kamis, 03 Jun 2010 14:52 WIB
Jakarta - Krisis Ekonomi Eropa yang terjadi di Yunani dan Spanyol sedikit mengguncang kepercayaan diri investor di Indonesia. Sepanjang April hingga 27 Mei 2010, dana asing Rp 4 triliun sempat keluar dari instrumen Surat Berharga Negara (SBN).

"Dana asing pada SBN dari Januari-27 Mei lalu netto yang masuk Rp 28,5 triliun. Tapi memang terjadi pelepasan asing selama April-Mei besarnya sampai Rp 4 triliun, namun awal minggu ini sudah terjadi pembalikan lagi asing mulai masuk tiap hari sekitar Rp 700 miliar sekarang sudah hampir pulih, relatif sudah stabil," ujar Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto di Kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (3/6/2010).

Rahmat mengakui dampak krisis ekonomi Eropa dalam sebulan terakhir membuat investor sedikit melakukan ragu-ragu. Belum lagi sebulan yang lalu ekonomi domestik juga ikut terguncang oleh pengunduran diri Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dampaknya sudah relatif minimal, selama tiga minggu-sebulan terakhir investor wait and see karena ada krisis Eropa, belum lagi pengunduran Ibu Sri Mulyani, memang sempat ada kenaikan yield 50 bps, sekarang sudah kembali lagi, yield sudah turun sampai sebelum puncak krisis Yunani asing sudah mulai masuk lagi," ungkapnya.

Jika dibandingkan dengan instrumen keuangan lain, Rahmat menilai SBN jauh lebih tangguh dan tidak rentan terhadap krisis, karena SBN menggambarkan kestabilan pemerintah. Sehingga besaran dana asing yang keluar sebesar Rp 4 triliun di SBN masih jauh lebih kecil dibanding dana asing SBI yang keluar sebesar Rp 40 triliun.

"SBN (yang keluar) lebih sedikit, kalau SBI sampai puluhan triliun. Kalau terjadi krisis yang terkena dampak utama itu SBI dan saham, kalau SBN lebih sedikit karena instrumen SBN kan menilai kredibilitas pemerintah," katanya.

Masuknya kembali investor ke Indonesia diyakini karena mereka tidak mau kehilangan kesempatan dan menilai Indonesia masih dilihat sebagai tempat yang menguntungkan. Karena Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat yang kemudian didukung dari lembaga-lembaga pemeringkat risiko Internasional yang terus meningkatkan rating Indonesia.

"Sebenarnya ini keuntungan bagi Indonesia karena meskipun masih emerging market, tapi fundamental perekonomoannya kuat, belum lagi lembaga-lembaga rating internasional juga memperbaiki rating dan risiko indonesia, nah yang namanya investor kan baca nih," tukasnya.

(nia/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads