"Dana asing pada SBN dari Januari-27 Mei lalu netto yang masuk Rp 28,5 triliun. Tapi memang terjadi pelepasan asing selama April-Mei besarnya sampai Rp 4 triliun, namun awal minggu ini sudah terjadi pembalikan lagi asing mulai masuk tiap hari sekitar Rp 700 miliar sekarang sudah hampir pulih, relatif sudah stabil," ujar Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto di Kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (3/6/2010).
Rahmat mengakui dampak krisis ekonomi Eropa dalam sebulan terakhir membuat investor sedikit melakukan ragu-ragu. Belum lagi sebulan yang lalu ekonomi domestik juga ikut terguncang oleh pengunduran diri Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika dibandingkan dengan instrumen keuangan lain, Rahmat menilai SBN jauh lebih tangguh dan tidak rentan terhadap krisis, karena SBN menggambarkan kestabilan pemerintah. Sehingga besaran dana asing yang keluar sebesar Rp 4 triliun di SBN masih jauh lebih kecil dibanding dana asing SBI yang keluar sebesar Rp 40 triliun.
"SBN (yang keluar) lebih sedikit, kalau SBI sampai puluhan triliun. Kalau terjadi krisis yang terkena dampak utama itu SBI dan saham, kalau SBN lebih sedikit karena instrumen SBN kan menilai kredibilitas pemerintah," katanya.
Masuknya kembali investor ke Indonesia diyakini karena mereka tidak mau kehilangan kesempatan dan menilai Indonesia masih dilihat sebagai tempat yang menguntungkan. Karena Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat yang kemudian didukung dari lembaga-lembaga pemeringkat risiko Internasional yang terus meningkatkan rating Indonesia.
"Sebenarnya ini keuntungan bagi Indonesia karena meskipun masih emerging market, tapi fundamental perekonomoannya kuat, belum lagi lembaga-lembaga rating internasional juga memperbaiki rating dan risiko indonesia, nah yang namanya investor kan baca nih," tukasnya.
(nia/dnl)











































