Surat tersebut ditandatangani oleh Pjs Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution tersebut dan dikirimkan pada Rabu kemarin (2/6/2010).
"BI telah mengirimkan 2 surat, yakni kepada RBA dan kepada Securrency yang ditandatangani oleh Pjs Gubernur BI Darmin Nasution Rabu kemarin," ujar Kepala Biro Humas Bank Indonesia, Difi A Johansyah kepada detikFinance di Jakarta, Sabtu (05/06/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Isinya itu meminta penjelasan tentang isu yang ada di harian The Age (Surat Kabar asal Australia-red)," tuturnya.
Difi mengharapkan agar pihak RBA segera membalas surat tersebut sehingga isu suap tersebut bisa diselesaikan.
Pjs Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution sebelumnya juga telah menggandeng Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk mengusut tuntas isu suap tersebut.
Hal tersebut dilakukan agar koordinasi dengan kepolisian Australia lebih mudah dilakukan.
Untuk diketahui BI diterpa kabar tak sedap seputar suap pencetakan uang pecahan Rp 100.000. Pejabat senior dari BI berinisial 'S' dan 'M' dikabarkan menerima suap hingga US$ 1,3 juta atau sekitar Rp 12 miliar untuk memenangkan kontrak pencetakan uang.
Perwakilan perusahaan RBA di Indonesia, Radius Christanto antara tahun 1999 hingga 2006 secara eksplisit disebut mereferensikan nilai suap yang besar ke pejabat BI, seperti tertuang dalam fax ke Securency International and Note Printing Australia atau Peruri Australia pada 1 Juli 1999.
(dru/epi)











































