Bank Indonesia (BI) meresmikan mekanisme setelmen USD-IDR Payment Versus Payment (USD/IDR PVP) pada sistem BI-Real Time Gross Setlement (BI-RTGS). Dengan kata lain, transaksi jual beli dolar AS dengan rupiah antar bank saat ini bisa dilakukan secara real time.
Pjs Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan, mekanisme USD/IDR PVP dapat memberikan manfaat utama bagi perbankan berupa mitigasi risiko kegagalam setelmen pada salah satu mata uang.
"Mekanisme ini bisa mendukung peningkatan manajemen risiko, permodalan dan likuiditas yang semakin baik serta operasional kegiatan back office yang semakin efisien di bank umum devisa yang menggunakannya," ujar Darmin disela peresmian USD/IDR PVP di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (09/06/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan USD/IDR PVP, bank-bank di Indonesia dapat memitigasi counterparty risk dari transaksi valuta asing serta meningkatkan efisiensi operasional melalui penyelesaian transaksi pada zona waktu Asia.
"Penyelenggaraan mekanisme setelmen PVP untuk memenuhi transaksi jual beli USD/IDR juga sejalan dengan peraturan Bank Indonesia No 10/37/2008 yang mengatur penyelesaian setiap transaksi valuta asing terhadap rupiah harus dilakukan dengan pemindahan dana secara penuh atau dilakukan secara trade by trade," papar Darmin.
Pada saat ini terdapat 28 bank umum devisa yang terdaftar pada sistem BI-RTGS sebagai pengguna mekanisme setelmen USD/IDR PVP. Sebagian diantaranya, atau 18 bank telah aktif menggunakan mekanisme tersebut. Sementara bank-bank umum devisa lainnya masih dalam proses pendaftaran untuk dapat menggunakan fasilitas tersebut.
Di tempat yang sama, Direktur Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran BI Ronald Waas mengungkapkan 90% dari transaksi valuta asing di Indonesia menggunakan dolar AS.
"Sejak 2002 sampai 2009 nilai statistik transaksi valuta asing antar bank 90 persennya menggunakan dolar," katanya.
Ia juga mengatakan, dalam 3 bulan terakhir Maret 2010-Mei 2010 transaksi menggunakan USD/IDR PVP sudah mencapai 93 transaksi dengan nilai total Rp2,27 triliun.
"Sampai dengan bulan Mei 2010 saja sudah mencapai 220 transaksi dengan nilai Rp 2,62 triliun," tambahnya.
Ronald mengharapkan seiring dengan meningkatnya jumlah transaksi valuta asing maka diharapkan bank-bank umum bisa menggunakan fasilitas tersebut.
(dru/ang)











































