Demikian disampaikan oleh Darmin Nasution ketika ditemui di Kantor BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Jumat (11/6/2010).
"Kita sudah bahas tapi belum ambil keputusan itu (capital control). Kita lebih pada yang sifatnya tidak langsung. Saya belum bisa bilang, kebijakan itu bukan capital control, tapi hanya mencoba mengurangi kecepatan keluar masuknya. Pokoknya belum ada langkah capital control," tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darmin mengatakan, BI belum akan mengambil langkah kebijakan capital control, karena situasi Indonesia belum mendesak memerlukan kebijakan itu. Menurut Darmin, suku bunga acuan di Indonesia yaitu BI Rate, masih cukup tinggi dan bersaing di dunia. Ini membuat Indonesia masih menarik bagi para investor untuk menanamkan modalnya.
"Kita bukannya tak mau menerapkan (capital control), tapi belum. Emerging markets lebih cepat pulih, negara maju lebih lambat, apalagi Eropa lebih lambat lagi. Karena perbedaan itu, maka di negara-negara maju yang recovery-nya lambat, policy rate lebih rendah mendekati nol. Maka capital outflow terjadi dan beralih ke daerah yang return lebih tinggai. Indonesia termasuk yang return-nya tinggi," tuturnya.
(dnl/qom)











































