Demikian disampaikan oleh Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah dalam jumpa persnya di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin, Jakarta, Rabu (30/06/2010).
"Pertemuan bank sentral negara G20 yakni membahas reformasi sektor keuangan. Yang cukup banyak menyita pokok bahasan ini terkait kualitas permodalan dan likuiditas sistem perbankan," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nantinya, walaupun masih dalam kajian BI, untuk lebih siap menghadapi krisis industri perbankan Halim mengatakan akan ada aturan penerapan untuk menambah cadangan penyanggah modal atau capital buffer.
"Ini harus diatas ketentuan modal minimum. Misalnya CAR perbankan kita masih di atas 19% jauh memenuhi ketentuan minimum 8%, namun jika ditambah cadangan penyanggah maka tidak akan masalah," papar Halim.
Kemudian yang ketiga, lanjut Halim dibahas mengenai bagaimana caranya mengurangi moral hazard lembaga keuangan dunia yang lintas negara. "Poinnya yakni bersifat mengatur Systematical Important Financial Institution (lembaga keuangan yang berdampak sistemik)," katanya.
Lebih lanjut Halim memaparkan pembahasan keempat yakni mengurangi kegiatan spekulatif. "Termasuk over the counter," jelasnya.
"Yang kelima yakni meningkatkan surveilance (pengawasan) perbankan atau keuangan pada umumnya. Sehingga lebih baik dan lebih awal. Selain itu juga membahas bagaimana meningkatkan standar akuntansi," imbuh Halim.
(dru/dnl)











































