Demikian disampaikan Direktur PT Bank Jabar Banten Tatang Sumarna saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Kamis (8/7/2010).
"Ini hasil unaudited, kredit kita mencapai Rp 20,6 triliun," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, perseroan baru saja melakukan pelepasan saham perdana (IPO/Initial Public Offering) ke pasar modal. Dana yang dihasilkan dari aksi ini adalah Rp 2,424 triliun. Melalui pertambahan dana ini, maka rasio kecukupan modal atau CAR perseroan bisa dipertahankan di level 16-18%.
Dana Pihak Ketiga (DPK) sampai akhir Juni 2010 tercatat sebesar Rp 32 triliun, meningkat dibanding posisi akhir tahun lalu Rp 23,7 triliun. Porsi DPK tercatat berimbang, antara Tabungan, Giro dan Deposito.
"Aset kita dari perhitungan sebelum audit juga naik menjadi Rp 39 triliun, dari posisi akhir tahun (2009) Rp 32,4 triliun," ucapnya.
Seleksi Underwriter Obligasi Rp 2 Triliun
sai IPO, perseroan juga berencana menerbitkan obligasi sebesar Rp 2 triliun, yang rencananya akan meluncur di triwulan-IV 2010. Saat ini, perseroan telah menyeleksi penjamin emisi obligasi yang ditargetkan akan rampung pada triwulan-III 2010.
"Kita sedang kumpulkan syarat-syarat untuk penjamin emisi. Belum ditentukan berapa pihak. Nantinya kita kan pakai pembukuan Juni," jelasnya.
Penerbitan obligasi ini ditujukan untuk penambahan modal perseroan agar lebih sehat. "Funding ini untuk mengatur cost of fund kita," tutur Tatang.
"Obligasi ini juga untuk mixing dana-dana yang ada di Bank Jabar Banten. Untuk (obligasi) subdebt ada kemungkinan juga," kata Direktur Utama Bank Jabar Banten, Agus Ruswendi.
(wep/dnl)











































