Hal ini disebabkan karena permintaan luar negeri terhadap produk tekstil Indonesia masih terbilang rendah sehingga berpotensi tinggi terjadinya kredit macet.
Demikian survei perbankan triwulan II-2010 yang dikutip detikFinance dari situs Bank Indonesia, Jumat (9/7/2010). Survei ini pengolahan datanya menggunakan metode Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yakni jawaban responden dikalikan bobot kredit, selanjutnya dihitung selisih antara persentase responden yang memberi jawaban meningkat dengan yang memberi jawaban menurun
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khusus untuk permintaan kredit baru selama triwulan II-2010 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini terlihat dari saldo bersih tertimbang (SBT) dari 21,1% menjadi 96,7%. Kenaikan permintaan kredit baru tersebut terutama didorong oleh kelompok bank besar (aset di atas Rp 25 triliun) dari 22,5% menjadi 100%.
Kenaikan permintaan kredit tersebut, disebabkan karena besarnya kebutuhan nasabah akan pembiayaan, prospek usaha nasabah yang semakin baik dan diikuti dengan penurunan tingkat suku bunga kredit.
Berdasarkan penggunaannya, kenaikan permintaan kredit tertinggi terjadi pada kredit konsumsi yang ditunjukkan oleh kenaikan nilai SBT dari 10,9% menjadi 68,9%. Disusul oleh kredit modal kerja dari SBT 29,5% menjadi 80,4% dan kredit investasi dari SBT 26% menjadi 57%.
Khusus untuk kredit konsumsi, permintaan kredit baru terbesar selama triwulan II-2010 berasal dari KPR/KPA dengan nilai SBT sebesar 77,8% diikuti dengan kredit multiguna sebesar 43,9%.
Secara sektoral, permintaan kredit baru yang tertinggi terjadi di sektor listrik, gas dan air bersih dengan nilai SBT 55,6%, diikuti oleh sektor pertambangan dengan SBT 44,5%. Sedangkan permintaan kredit di sektor jasa kemasyarakatan menjadi satu-satunya sektor yang mengalami kontraksi dengan SBT minus 10,4%.
Atas permintaan kredit yang tinggi tersebut, perbankan ternyata meresponsnya dengan baik. Hal itu terlihat dari turunnya jumlah aplikasi kredit yang tidak disetujui dari 14,3% pada triwulan I-2010 menjadi 13,6% pada triwulan II-2010.
(qom/dnl)











































