Demikian berdasarkan data yang diperoleh detikFinance, Rabu (14/7/2010).
Kucuran pembiayaan seluruh perusahaan multifinance mencapai Rp 157,86 triliun hingga Mei 2010, meningkat 20,97% dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 130,49 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal serupa dialami oleh perusahaan-perusahaan multifinance yang sudah go public. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 9 emiten multifinance.
Hingga triwulan I-2010, pembiayaan yang dikucurkan 9 emiten multifinance tercatat sebesar Rp 10,438 triliun, naik 9,70% dari periode yang sama tahun 2009 sebesar Rp 9,515 triliun.
Pertumbuhan pembiayaan 9 emiten multifinance lebih rendah dari industri. Salah satu penyebab utamanya dipicu oleh penurunan kinerja pembiayaan PT BFI Finance Tbk (BFIN).
Hingga triwulan I-2010, pembiayaan BFIN sebesar Rp 1,944 triliun, merosot Rp 2,239 triliun dari triwulann I-2009. Ini menyebabkann pendapatan BFIN juga menurun 10,22% menjadi Rp 215,088 miliar dari sebelumnya Rp 239,577 miliar.
Bagi perusahaan multifinance, pinjaman perbankan dan lembaga keuangan merupakan sumber pendanaan utama bagi pembiayaan yang akan dikucurkan.
Pinjaman perbankan yang diterima 9 emiten multifinance di triwulan I-2010 tercatat sebesar Rp 3,635 triliun, menurun 25,72% dari triwulan I-2009 sebesar Rp 4,918 triliun. Tampak berlawanan arus dengan pinjaman perbankan dan lembaga keuangan ke seluruh perusahaan multifinance yang naik 14,03%.
Rupanya, penurunan pinjaman perbankan yang diterima BFIN menjadi pemicu utamanya. Hingga triwulan I-2010, pinjaman perbankan yang diterima BFIN hanya tercatat sebesar Rp 622,117 miliar, anjlok 60,79% dari triwulan I-2009 sebesar Rp 1,587 triliun.
Konon, keengganan bank memberikan pinjaman kepada BFIN sangat terkait erat dengan adanya sengketa saham antara direksi BFI Finance dengan PT Aryaputra Teguharta, mantan pemilik BFIN.
Akibat sengketa yang dimulai sejak 2002 dan hingga kini belum selesai itu, sejumlah bank besar dikabarkan telah membatalkan komitmen kreditnya ke BFI Finance.
Terkait sengketa tersebut, Direktur BFIN Cornellius Henry Kho enggan berkomentar lebih jauh. Kendati demikian, ia optimistis kondisi semester II-2010 bakal bertumbuh sehingga pinjaman meningkat.
"Kami yakin bahwa pinjaman pasti akan mengikuti tumbuhnya pembiayaan," ujar dia.
Menurut Cornellius, masih ada sedikit kebutuhan pendanaan dari perbankan yang perlu dicari, namun jumlahnya tidak terlalu signifikan.
Namun, dia menjelaskan, jika ada revisi target pembiayaan, jumlah pinjaman bisa direvisi. Cornellius melihat, hingga akhir Juni 2010 pembiayaan sudah mencapai sekitar 50% dari target sebesar Rp 3 triliun tahun ini.
"Pada bulan Juli-Agustus 2010, menurut saya bakal ada kenaikan di pasar pembiayaan, sehingga pinjaman kemungkinan bisa direvisi," kata dia.
Sekitar 80% porsi pendanaan BFI Finance berasal dari perbankan dan sisanya merupakan obligasi.
Â
Â
(dro/dro)











































