Demikian disampaikan oleh Direktur Utama Bank UOB Buana Armand B. Arief usai peresmian kantor cabang UOB Plaza di Jakarta, Kamis (15/7/2010).
"Sebelum merger, porsi kredit kami terbagi rata sepertiga antara corporate, small business, dan consumer. Usai merger, corporate menjadi 37-40%," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Inginnya menjadi The Premier Bank in Indonesia. Premium bukan hanya corporate tapi segala aspek. Ini hanya menggambarkan kualitas," ungkapnya.
Hingga akhir tahun 2010, diharapkan terjadi peningkatan kredit 25% dari posisi tahun sebelumnya. "Ini sesuai dengan rencana kami, yang telah kami sampaikan ke BI," tegasnya.
"Namun, dalam 5 tahun ke depan kami memperkirakan pprsi kredit small business bisa mencapai 70%. Itu visi kami," kata Achmand.
Pasca merger, rasio kecukupan modal perseroan akan terakumulasi sekitar 20-22%, dengan modal disetor mencapai Rp 3,28 triliun dari total equity Rp 6,5 triliun.
"Karena ada penambahan volume maka CAR akan menjadi 20-22%. UOB Buana sendiri akan ada growth 25% sedangkan UOB Indonesia 30%, dengan fokus di komersial dan corporate banking," katanya.
(wep/dnl)











































