Bank Mandiri tidak khawatir atas rencana Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk menurunkan batas penjaminan dari yang saat ini sebesar Rp 2 miliar. Langkah itu diyakini tidak akan memicu keluarnya dana dari perbankan Indonesia.
Demikian disampaikan Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini dalam kesempatan wawancara khususnya dengan detikFinance di kantornya, Plaza Mandiri, Jakarta, Kamis (22/7/2010) malam.
"Saya melihatnya bukan sesuatu yang terlalu bermasalah di sana. Mungkin saat ini pun uang luar negeri juga sudah mulai masuk Indonesia dengan caranya sendiri. Misalkan suku bunga Singapura nol koma sekian, kalau di sini deposito dapat 6 persen. Ngapain simpan di Singapura," urai Zulkifli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penjaminan Rp 2 miliar itu merupakan yang terbesar di Asia. Jika kita lihat saat ini, kondisi ekonomi dan perbankan yang sudah stabil harus menjadi kajian pemerintah untuk memikirkan kembali besarnya penjaminan," kata Firdaus.
Zulkifli mengaku sepakat bahwa saat ini batas penjaminan dana nasabah sudah saatnya dikaji lagi. Ini dikarenakan kebijakan penjaminan dana nasabah hingga Rp 2 miliar dibuat ketika terjadi krisis tahun lalu.
"Tapi memang kalau Rp 2 miliar itu diberlakukan pada saat krisis. Jadi nanti LPS bisa sampaikan kajiannya, bahwa ini situasi sudah normal sehingga kita kaji kembali ke jaman normal. Malah di negara lain saat krisis itu full dijamin. Sempat menjadi kontorversi juga di kita dan akhirnya diputuskan Rp 2 miliar penjaminannya. Nah mungkin sekarang ini bisa diakji kembali," paparnya.
Dengan batas penjaminan yang kini tertinggi di Asia, Zulkifli tetap yakin revisi kebijakan itu tidak akan membuat dana-dana asing lari dari perbankan Indonesia.
"Uang itu semut, kalau gula ada di Indoensia maka dia akan datang ke sini. Jadi kita enggak usah paksa mereka untuk ke mana. Kalau return investment Indonesia itu lebih baik dibandingkan Singapura, Malaysia, atau Hong Kong, itu dana akan masuk sendiri. Terbukti kok, banyak bank luar negeri mau buka cabang di Indonesia karena ROE-nya mungkin paling tinggi se-Asia. Mekanisme pasarnya sesimpel itu saja," pungkasnya. (qom/qom)











































