BI Tak Perlu Repot-repot Paksa Bank Turunkan Suku Bunga

BI Tak Perlu Repot-repot Paksa Bank Turunkan Suku Bunga

Nurul Qomariyah, Angga Aliya ZRF - detikFinance
Jumat, 23 Jul 2010 12:25 WIB
BI Tak Perlu Repot-repot Paksa Bank Turunkan Suku Bunga
Jakarta - Bank Indonesia (BI) dinilai tak perlu mengeluarkan aturan untuk memaksa bank-bank menurunkan suku bunganya. Dengan persaingan yang sangat ketat saat ini, bank-bank akan selalu berupaya untuk memberikan suku bunga kredit yang serendah-rendahnya kepada nasabah.

Demikian disampaikan Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini dalam kesempatan wawancara khususnya dengan detikFinance di kantornya, Plaza Mandiri, Jakarta, Kamis (22/7/2010) malam.

"Di Indonesia ada 120 bank sementara di negara lain hanya 4 atau 5 saja. Mereka semua bersaing untuk mendapatkan nasabah, persaingan sangat ketat. Hanya dengan selisih bunga 0,25% atau 0,3% itu orang bisa pindah. Jadi bagaimana mungkin kalau perbankan kita dianggap suku bunga terlalu tinggi. Kita saja sesama bank BUMN bersaing ketat," urai Zulkifli.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Zulkifli menilai sebaiknya masalah suku bunga itu diserahkan kepada mekanisme pasar saja. Tidak perlu ada pemaksaan karena bank yang menerapkan suku bunga kredit tinggi pasti akan ditinggalkan debiturnya.

"Serahkan saja ke mekanisme pasar. Pada akhirnya kan debitur juga tidak mau dengan bank bersuku bunga tinggi. Kompetisi tidak memungkinkan kita mengenakan suku bunga tinggi apalagi situasi di Indonesia di mana 120 bank yang bersaing antara satu sama lain," ujarnya.

Ia juga menjelaskan, saat ini Bank Mandiri terus berupaya menurunkan suku bunga kreditnya. Pada Maret 2009, base lending rate Bank Mandiri sebesar 10,6% dan turun menjadi 8,9% pada Maret 2010.

"Bank Mandiri itu satu tahun terakhir penurunan bungan sudah cukup signifikan. Maret 2009 base landing rate kita 10,6%, di Maret 2010 base landing rate sudah 8,9%, sudah single digit. Jadi kelihatan kita usaha turunkan suku bunga," katanya.

Namun untuk 'memaksa' penurunan suku bunga lebih lanjut, Zulkifli mengatakan bahwa ada masalah fundamental yang harus dilihat yakni terkait inflasi.

"Kita selalu usaha turunkan suku bunga, NIM sudah rendah. Kalau mau turun lagi harus ada sesuatu yang fundamental, yaitu inflasi. Suku bunga DPK (Dana Pihak Ketiga) itu fungsi inflasi. Kalau mau bandingkan suku bunga kita dengan negara lain harus dilihat dulu apakah inflasinya sama atau tidak. Itu yang sering kita enggak lihat," paparnya.

Ia yakin jika inflasi bisa ditekan serendah mungkin, hal itu akan memicu kenaikan suku bunga DPK meningkat sehingga orang ramai-ramai menyimpan dananya. Hal itu selanjutnya bisa berdampak pada penurunan suku bunga kredit.

"Kalau inflasi rendah, maka suku bunga DPK naik dan banyak orang simpan dana dan memuat suku bunga kredit turun. Jangan salahkan bank nya kalau suku bunga dua digit atau lebih itu semua rangkaian saja," imbuh Zulkifli.

Terkait suku bunga UKM yang jauh lebih tinggi ketimbang korporasi hingga dua digit, Zulkifli menilai hal itu disebabkan karena tingginya biaya untuk pemberian kredit UKM.

"Kenapa mereka tidak bisa diberikan bunga rendah karena nilainya kecil jumlahnya padahal yang menangani kredit itu cost-nya cukup tinggi. Lebih tinggi dibandingkan kredit korporasi Rp 1 triliun, supervisornya cuma 1 orang. Kalau UKM untuk mencapai Rp 1 triliun kan butuh banyak sekali peminjam," imbuh Zulkifli.

Pjs Gubernur BI Darmin Nasution sebelumnya melontarkan rencana seputar aturan untuk memaksa bank-bank menurunkan suku bunganya. Hal itu dikarenakan suku bunga perbankan yang saat ini masih tinggi, padahal BI Rate sudah sekian lama ditahan di level 6,5%.

Darmin mengatakan, aturan tersebut dibuat agar masing-masing bank dapat bersaing dengan lebih tajam. "Nantinya bank akan bersaing lebih tajam dengan bank lain agar mau tidak mau bunga diberikan lebih rendah," tuturnya.

(qom/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads