Terganjal Modal, BNI Tahan Ekspansi Kredit

Terganjal Modal, BNI Tahan Ekspansi Kredit

Herdaru Purnomo - detikFinance
Selasa, 27 Jul 2010 13:40 WIB
Terganjal Modal, BNI Tahan Ekspansi Kredit
Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) terpaksa menahan ekspansi kreditnya di tahun 2010. Pasalnya bank pelat merah tersebut masih terkendala di permodalan.

"Pertumbuhan kredit memang agak lambat karena berkaitan dengan permodalan. Kan setiap pinjaman sebesar Rp 1 triliun akan menggerus CAR (Rasio Kecukupan Modal) sebesar 0,2%-0,3%," ujar Direktur Utama BNI, Gatot Suwondo dalam konferensi persnya di Gedung BNI, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (27/07/2010).

Gatot mengatakan, sampai dengan semester I-2010 saja kredit hanya tumbuh 5%. Padahal di awal tahun BNI menargetkan kredit bisa tumbuh sebesar 17%, bank milik negara itu akhirnya merevisi target kreditnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di akhir tahun diupayakan bisa sampai 14%," tuturnya.

Namun, Gatot menjelaskan salah satu hal yang menyebabkan rendahnya penyaluran kredit juga karena proses pencairan yang tidak dilakukan dari proyek-proyek infrastruktur.

"Seperti jalan tol yang terhambat oleh permasalahan perizinan kepemilikan tanah. Ini mengakibatkan undisbursed loan mencapai Rp 25 triliun," katanya.

Gatot menambahkan, kredit nantinya diharapkan akan mencapai Rp 130 triliun di 2010 atau hanya lebih besar Rp 10 triliun jika dibandingkan dengan akhir 2009 yang mencapai Rp 120 triliun.

Permodalan yang menjadi masalah, lanjut Gatot diharapkan akan tertutup oleh rencana perseroan melakukan penawaran saham terbatas (rights issue).

"Rencananya akan dilakukan issue lagi sejumlah 3,3 miliar lembar saham. Sehingga komposisinya 60% dimiliki pemerintah dan 40% dimiliki publik," ungkapnya.

Gatot mengharapkan dengan adanya rights issue CAR bisa meningkat sampai dengan 16%. "Saat ini sudah diposisi 13,3% dan akan kita maintain di posisi tersebut jika memang worst case rights issue tidak berjalan di tahun 2010," ungkapnya.

Ia juga mengatakan, seandainya memang rights issue terkendala berbagai macam hal, BNI mengharapkan adanya haircut (hapus tagih) sesuai dengan UU APBN. Karena menurutnya, tercatat kredit yang dapat di-haircut sebesar Rp 25 triliun.

(dru/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads