Pengusaha: Masyarakat Pernah Trauma Soal Redenominasi Rupiah

Pengusaha: Masyarakat Pernah Trauma Soal Redenominasi Rupiah

- detikFinance
Senin, 02 Agu 2010 12:44 WIB
Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengingatkan wacana redenominasi rupiah oleh Bank Indonesia (BI) harus dilakukan secara hati-hati. Masyarakat pernah trauma mengenai kebijakan redenominasi rupiah pada masa Orde Lama.

"Yang paling penting adalah sosialisasi, kita pernah trauma zamannya Pak Karno. Trauma itu masih ada, bagaimana menghilangkan trauma itu," katanya saat dihubungi detikFinance, Senin (2/8/2010).

Meskipun begitu, Sofjan mengakui, di banyak negara memang nilai nominal mata uang tidak terlalu besar seperti di Indonesia dan hal ini akan menentukan secara psikologis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau menurut saya perlu sosialisasi, ada tahapannya yang nominasi gede bisa tetap dipakai dan yang kecil juga masuk, setelah itu bertahap baru ditarik yang nominasi gede," jelasnya.

Dari sisi pengusaha, Sofjan menyatakan setuju dan tak terlalu mempersoalkan, asalkan kata dia redenominasi ini bukan bertujuan untuk mengurangi nilai mata uang rupiah.
Β 
"Tapi hati-hati juga, jangan cetak uang banyak-banyak bisa inflasi," ucapnya.

Wacana redenominasi atau penurunan nominal rupiah tanpa mengurangi nilai sebelumnya dilontarkan Gubernur BI baru Darmin Nasution.

Bank sentral merasa perlu melakukan redenominasi karena seperti kita ketahui uang pecahan Indonesia yang terbesar saat ini Rp 100.000. Uang rupiah tersebut mempunyai pecahan terbesar kedua di dunia, terbesar pertama adalah mata uang Vietnam yang mencetak 500.000 Dong.

Namun tidak memperhitungkan negara Zimbabwe, negara tersebut pernah mencetak 100 miliar dolar Zimbabwe dalam satu lembar mata uang.

"Redenominasi itu prosesnya akan dibicarakan dulu dengan pemerintah dan presiden dan harus melalui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baru kita sosialisasikan," ujar Darmin.

(hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads