Inflasi Melonjak, BI Diyakini Belum 'Tergoda' Naikkan BI Rate

Inflasi Melonjak, BI Diyakini Belum 'Tergoda' Naikkan BI Rate

- detikFinance
Selasa, 03 Agu 2010 07:20 WIB
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulan Juli 2010 mencapai 1,57%, atau tertinggi sepanjang tahun ini. Ancaman tingginya inflasi juga masih akan menghadang dalam bulan-bulan mendatang seiring hadirnya bulan puasa dan lebaran.

Namun tingginya inflasi itu diprediksi belum akan membuat Bank Indonesia (BI) tergoda untuk menaikkan BI Rate yang kini di level 6,5%.

"Meskipun kenaikan inflasi terjadi selama Juli 2010, kami perkirakan Bank Indonesia akan tetap menjaga BI Rate di level 6,5% pada Agustus. Ini karena ekspektasi inflasi tahunan masih konsisten dengan target inflasi 2010 yang sebesar 5 plus minus 1%," ujar ekonom dari BII, Samuel Ringoringo dalam analisisnya yang dikutip detikFinance, Selasa (3/8/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal senada disampaikan Helmi Arman, ekonom dari BII yang menilai BI kemungkinan tidak akan langsung merespons lonjakan inflasi ini dengan kenaikan I Rate.

"Kami perkirakan mereka akan menunggu data berikutnya, dan disaat yang sama mereka akan memberikan penekanan lagi dalam pernyataan kebijakan moneter bulanannya. Namun dengan melihat data terbaru, kami kira kemungkinan kenaikan BI Rate paling cepat pada Oktober 2010 naik 1 tingkat," ujar Helmi.

Samuel menambahkan, ada 2 faktor yang kini dicermati BI yakni permintaan yang masih lemah dan apresiasi nilai tukar rupiah hingga di bawah 9.000 per dolar AS. Kedua faktor itulah yang membuat BI belum terlalu ingin menaikkan BI Rate.

"Namun BI akan lebih konservtif dalam melihat fenomina ini dan risiko kenaikan BI Rate tahun depan semakin besar," ujar Samuel.

BPS sebelumnya mencatat inflasi Juli sebesar 1,57% dengan inflasi kumulatif Januari-Juli 2010 4,02%, sementara inflasi year on year 6,22%. Lonjakan inflasi terutama dipicu kenaikan harga beras dan juga naiknya biaya perpanjangan STNK.

Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menilai pencapaian inflasi sesuai dengan target pemerintah sebesar 5,3% hampir sulit tercapai. Kecuali ada intervensi Bulog untuk menekan harga beras pada bulan Puasa dan Lebaran.

"5,3% itu hampir tidak dicapai kecuali intervensi Bulog pada bulan puasa," ujar Purbaya saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (2/8/2010).

Selain itu, perlu adanya usaha keras pemerintah untuk menghilangkan sentimen negatif yang beberapa tahun belakangan ini menggenjot inflasi pada akhir tahun.

"Biasanya pada akhir tahun, Desember inflasi 0,5-0,6% memang akhir-akhir ini sekitar 1% pada akhir tahun itu karena ada sentimen negatif yang tidak wajar. Kalau dibiarkan maka akan makin parah. Bulan puasa biasanya 0,7% dengan kecenderungan menurun karena banyaknya supermarket yang menekan dan menstabilkan harga. September biasanya 0,1-0,2%," jelasnya.

Kalau Pemerintah bisa mencapai standar inflasi tiap bulan tersebut, lanjut Purbaya, maka paling tidak inflasi bisa ditekan di bawah 6%. Namun, kalau pemerintah tidak mampu melakukan upaya-upaya penekanan maka inflasi akan lepas bebas di atas 6%.

"Kalau tetap dipertahankan trennya seperti sekarang mungkin masih di atas 6%. Bahkan, 6,5% masih cukup bagus," tandasnya.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads