"Kalau sepuluh ribu jadi sepuluh rupiah, nah kalau seratus rupiah nolnya kan dua, jadinya piro?" kata Megawati saat menyampaikan pidato pembukaan Rakornas PDIP di Sentul, Rabu (4/8/2010).
Pernyataan mega yang polos ini pun disambut tawa peserta Rakornas PDIP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BI memperkirakan proses redenominasi akan membutuhkan waktu sekitar 10 tahun. Tahapan pertama yang dilakukan bank sentral yakni sosialisasi yang dimulai dari tahun 2011 dan tuntas pada di 2022.
Sosialisasi akan dilakukan hingga 2012, dan tahun 2013 akan dilanjutkan dengan masa transisi. Pada masa transisi digunakan dua rupiah, yakni memakai istilah rupiah lama dan rupiah hasil redenominasi yang disebut rupiah baru.
Pjs Gubernur BI Darmin Nasution sebelumnya memberikan penjelasan, dalam masa transisi itu toko-toko yang menjual sebuah barang akan tercatat 2 label harga. Yakni dengan rupiah lama dan dengan rupiah baru. Jika nol-nya disederhanakan 3 digit, lanjut Darmin, kalau harga barangnya Rp 10.000 maka akan dibuat dua label yakni Rp 10.000 untuk rupiah lama dan Rp 10 untuk rupiah baru.
Lebih lanjut Mega juga mengkritik sejumlah kebijakan Pemerintah yang dirasanya tidak pro rakyat. Konversi minyak tanah ke gas misalnya, dianggap Mega terlalu cepat.
"Saya bingung ngurus gas saja pemerintah susah. Wong tiga kilo kok repot-repot, waktu pilpres dulu saya jelaskan secara rinci dan detail saya minta dilakukan transisi sekitar dua tahun supaya rakyat yang dari dulu mengenakan kayu tahu pergantian gas," kritik Mega.
Terakhir, Mega mengkritisi kenaikan harga bahan pokok yang menjadi imbas kenaikan TDL.
"Saya waktu ngobrol dengan ibu-ibu bilang sekarang satu cabai seribu rupiah, kebayang kalau nyambel lima cabai berarti lima ribu. Saya bingung," ujar Mega disambut tepuk tangan dan tawa peserta Rakornas.
(van/qom)











































