Megawati: Apa ya Nama Indonesianya? Susah Banget Itu...

Redenominasi Rupiah

Megawati: Apa ya Nama Indonesianya? Susah Banget Itu...

- detikFinance
Rabu, 04 Agu 2010 15:40 WIB
Megawati: Apa ya Nama Indonesianya? Susah Banget Itu...
Sentul - Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri masih bingung dengan rencana Bank Indonesia (BI) untuk melakukan redenominasi atau penyederhanaan rupiah. Selain bingung dengan istilah redenominasi, Mega juga bingung menghitung uang yang satuannya tidak tiga angka.

"Sekarang contoh konkret bagaimana menghitung mereka yang satuannya tidak tiga angka. Uang receh kita kan masih ada 50 perak kan? Silakan saja kalau mau tukar tempe?," ujar Mega.

Mega mengatakan itu dalam jumpa pers Rakornas PDIP, Sentul International Convention Center, Sentul, Jawa Barat, Rabu (4/8/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mega meminta rencana redenominasi dipikirkan lebih jauh oleh Bank Indonesia.

"Jawabannya sudah cukup lugas. Kalau sekian juta rakyat ada di kalangan menengah ke atas, yang memegang uang Rp 100 ribu mungkin dia punya. Tidak seperti mereka yang menengah ke bawah," imbuh dia.

Mega juga mengaku sulit untuk mengatakan kata redenominasi itu. Mega meminta BI berbicara dengan bahasa yang bisa dimengerti rakyat.

"Itu namanya susah. Apa ya Indonesianya, susah banget itu. Saya sendiri mau mengatakannya susah. Lebih baik bicara bahasa rakyat saja," kata istri Ketua MPR Taufiq Kiemas itu.

Seperti diketahui, Bank Indonesia kini sedang menggodok redenominasi atau penyederhanaan rupiah tanpa mengurangi nilainya. Misalnya adalah uang Rp 1.000.000 nantinya menjadi Rp 1.000 namun nilainya tidak berkurang. Redenominasi ini berbeda dengan sanering yang merupakan perubahan nominal namun ada perubahan nilainya.

BI memperkirakan proses redenominasi akan membutuhkan waktu sekitar 10 tahun. Tahapan pertama yang dilakukan bank sentral yakni sosialisasi yang dimulai dari tahun 2011 dan tuntas pada di 2022.

Sosialisasi akan dilakukan hingga 2012, dan tahun 2013 akan dilanjutkan dengan masa transisi. Pada masa transisi digunakan dua rupiah, yakni memakai istilah rupiah lama dan rupiah hasil redenominasi yang disebut rupiah baru.

Pjs Gubernur BI Darmin Nasution sebelumnya memberikan penjelasan, dalam masa transisi itu toko-toko yang menjual sebuah barang akan tercatat 2 label harga. Yakni dengan rupiah lama dan dengan rupiah baru. Jika nol-nya disederhanakan 3 digit, lanjut Darmin, kalau harga barangnya Rp 10.000 maka akan dibuat dua label yakni Rp 10.000 untuk rupiah lama dan Rp 10 untuk rupiah baru.
(nik/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads