"Ini hanya politik dari 9000 (kurs dolar)Β menjadi 9 (rupiah), biar gagah lah kelihatannya kalau satu dolar," ujar Mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Anwar Nasution saat ditemui di kantor kementerian perdagangan, Jakarta, Rabu (4/8/2010).
Anwar menambahkan, redenominasi uang rupiah sebagai simbol untuk menggambarkan perekonomian Indonesia yang sempat kena dampak krisis beberapa waktu lalu sudah lewat dan siap menyongsong masa depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait sanering yang pernah terjadi di masa lalu, Anwar mengatakan hal itu sekarang sangat jauh berbeda dengan redenominasi. Menurut Anwar, sanering dilakukan karena krisis ekonomi, sementara redenominasi untuk menggambarkan bahwa krisis itu sudah lewat.
"Redenominasi bahasa Inggris senering bahasa Belanda sama saja. Kalau selalu dikatakan oleh BI berbeda, tapi tak dijelaskan apa bedanya. Kamu tanya dong, jangan tanya sama saya, satu bahasa Belanda satu bahasa Inggris," katanya.
Meski ia mengakui dampak dari redenominasi jika ada masalah pada perubahan harga relatif, khususnya bagi orang-orang miskin akan terasa, karena orang miskin memegang kekayaannya melalui uang tunai.
"Kalau orang kaya bisa lewat emas, kalau tukang ojek bagaimana bisa dia beli emas. Beli dolar mana tahu tukang ojek beli dolar," katanya.
Seperti diketahui, Bank Indonesia kini sedang menggodok redenominasi atau penyederhanaan rupiah tanpa mengurangi nilainya. Misalnya adalah uang Rp 1.000.000 nantinya menjadi Rp 1.000 namun nilainya tidak berkurang. Redenominasi ini berbeda dengan sanering yang merupakan perubahan nominal namun ada perubahan nilainya.
BI memperkirakan proses redenominasi akan membutuhkan waktu sekitar 10 tahun. Tahapan pertama yang dilakukan bank sentral yakni sosialisasi yang dimulai dari tahun 2011 dan tuntas pada di 2022.
(hen/qom)











































