"Ada bagusnya tapi bukan prioritas, apa bagusnya itu. Ini beda kita tahun 60-an, ada sanering, potong uang karena krisis, maksudnya untuk mengurangi uang beredar," kata Anwar saat ditemui di kantor kementerian perdagangan, Jakarta, Rabu (4/8/2010).
Anwar berpendapat kebijakan redenominasi diibaratkan seperti orang yang berganti nama, yang dipastikan tak akan merubah karakter individu seseorang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seharusnya kata dia, Indonesia bisa belajar dari China yang hanya dalam kurun waktu 30 tahun menggeliat maju ekonominya. Kunci sukses China ini karena meniru Jepang dan Korea yang mampu mengenjot ekspornya.
Hal ini karena negara Tirai Bambu tersebut mampu membuat mata uangnya berada dalam rate yang efektif sehingga memberikan rangsanga terhadap ekspor atau jauh berbeda dengan Indonesia.
"Sekarang ketika rupiah menguat apakah senang?" tanyanya.
Anwar juga meyakini redenominasi belum tentu akan direspons negatif oleh pasar. Ini melihat pengalaman dari negara lain dalam redenominasi mata uangnya.
"Kenapa tidak? Turki dan Rumania tahun 2005 sama saja. Turki lebih parah lagi tuh, satu juta lira lama dengan satu lira baru," katanya.
(hen/qom)











































