"Soal redenominasi jangan sekali-kali ceroboh dan mengabaikan dampak sosial dan psikologis dari kebijakan ini," ujar Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Rabu (04/08/2010).
Sigit menilai, redenominasi adalah sebuah tindakan besar yang berdampak sangat luas dan pada masyarakat. "Seharusnya dibuat perencanaan yang rinci dan matang, dikoordinasikan antara BI dan Pemerintah dan melibatkan semua pemangku kepentingan yang lain seperti kalangan perbankan dan dunia usaha," kata Sigit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Sigigt mengungkapkan, dari segi gagasan sebetulnya sangat baik karena tujuannya untuk memudahkan masyarakat bertransaksi dan dalam jangka panjang akan terjadi efisiensi secara nasional.
"Misalnya semua perhitungan di kalkulator, komputer, mesin kasir, alat tera seperti pompa BBM. Belum lagi memori komputer, cetakan dalam kertas akan lebih hemat ruang kalau nominal uang berkurang 3 angka nol," tutur Sigit.
"Geger peristiwa rencana denominasi ini ibaratnya BI seperti seorang ibu yang keguguran bayinya sebelum dilahirkan. Ironisnya sang suami (Pemerintah) pun tidak tahu kapan bayi akan lahir, di mana akan dilahirkan dan bagaimana proses kelahirannya," imbuh Sigit.
Lebih lanjut Sigit menuturkan, belajar dari peristiwa ini maka suatu kebijakan sebaiknya direncanakan dengan matang, dikoordinasikan, dikomunisasikan, dan disosialisasikan dengan baik.
(dru/dnl)











































