Sehingga DPK sejak Januari 2010 sampai 20 Agustus 2010 (year to date) tumbuh 5,04% atau 14,52% secara year on year.
Demikian disampaikan oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah melalui surat elektroniknya di Jakarta, Kamis (23/08/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan DPK tersebut, lanjut Difi diiringi dengan peningkatan kredit. "Kredit naik Rp 7,34 triliun sehingga year to date kredit tumbuh 11,85% atau year on year tumbuh 19,50%," ungkapnya.
Difi menjelaskan kenaikan DPK tersebut terdiri dari DPK dalam bentuk rupiah yakni sebesar Rp 7,76 triliun dan dalam bentuk valas Rp 3,27 triliun.
"Jika dilihat dari komponennya, kenaikan terjadi pada giro Rp 10,38 triliun, deposito Rp 2,05 triliun dan tabungan turun Rp 1,4 triliun," tuturnya.
Ia menambahkan, kenaikan giro yang cukup signifikan terjadi karena meningkatnya penyaluran kredit dan transaksi nasabah besar.
"Jika dibandingkan antara pangsa DPK valas terhadap total DPK perbankan lebih besar, dibandingkan dengan pangsa kredit valas terhadap total kredit, yakni 17,02% dibanding 13,80%," jelas Difi.
Suku Bunga Dasar Kredit Turun
Difi juga menjelaskan mengenai perkembangan yang menonjol untuk spread suku bunga. Per 20 Agustus 2010 spread suku bunga rupiah mengalami penurunan cukup besar yakni 6 bps,
"Dari 5,91% memjadi 5,85% Hal ini disebabkan SBDK (Suku Bunga Dasar Kredit) industri perbankan turun 5 bps, namun rata rata suku bunga deposito rupiah 1 bulan naik tipis juga sebesar 1 bps," ujarnya.
Menurutnya, penurunan SBDK rupiah disebabkan turunnya SBDK rupiah bank swasta sebesar 9 bps.
"Jika dilihat dari total aset, penurunan SBDK rupiah terjadi pada kelompok bank kecil yakni 12 bps dan bank besar 7 bps sedangkan bank menengah tidak berubah," tukasnya.
(dru/qom)











































