Bank RI Sulit Buka Cabang di Malaysia

Bank RI Sulit Buka Cabang di Malaysia

- detikFinance
Kamis, 02 Sep 2010 07:47 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengakui sulitnya bank nasional membuka cabang di Malaysia dikarenakan adanya kebijakan khusus. Ternyata, bank nasional tidak bisa membuka cabang di negeri jiran tersebut tanpa mendirikan bank terlebih dahulu.

Demikian diungkapkan oleh Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution ketika ditemui usai acara buka puasa bersama media di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (03/09/2010) malam.

"Kita sudah pernah berbicara dengan Gubernur Bank Sentral Malaysia. Jadi jika ingin buka cabang di Malaysia harus bikin bank terlebih dahulu disana," ujar Darmin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Darmin mengungkapkan, kebijakan tersebut ternyata membuat salah satu bank nasional yakni PT Bank Mandiri Tbk sulit melakukan ekspansi perluasan jaringannya di Malaysia.

Jadi, lanjut Darmin, BI pada waktu itu memang menyampaikan masalah pembukaan cabang ke Bank Sentral Malaysia ketika melakukan pertemuan bilateral beberapa waktu lalu. Menurut Darmin, bank sentral Malaysia sebelumnya menyatakan akan mempertimbangkan hal tersebut.

"Namun tidak lama setelah kami pulang beberapa bulan kemudian, Pak Agus (Direktur Utama Bank Mandiri waktu itu) bilang yang diminta cabang tetapi dikasihnya malah izin untuk bikin bank," ujarnya

"Ya, jika ingin mendirikan bank baru kan jadinya mahal, makanya Bank Mandiri tidak mau," imbuh Darmin.

Menurut Darmin, pihaknya lebih memilih untuk berbicara baik-baik kembali dengan Bank Sentral Malaysia terkait sulitnya bank pelat merah membuka cabang di Malaysia.

"Ya, kita harus bicarakan baik-baik saja. Nggak usah pakai resiprokal-lah," tukasnya.

Salah satu kasus pendirian bank di Malaysia adalah Bank Mandiri. Seperti diketahui, Bank Sentral Malaysia telah memberikan izin untuk pembukaan anak usaha Bank Mandiri di Malaysia. Padahal Bank Mandiri semula hanya mengajukan izin pembukaan kantor cabang.

Dengan izin yang di atas ekspektasi itu, Bank Mandiri pun kini harus berpikir ulang dan merombak rencananya untuk ekspansi di Malaysia itu. Pasalnya, kebutuhan dana untuk pembukaan anak usaha di Malaysia itu membutuhkan dana paling tidak Rp 2 triliun. (dru/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads