Kepala Biro Humas Bank Indonesia, Difi Ahmad Johansya menyatakan, BI keberatan apabila skenario risiko yang dipilih IMF sangat ekstrem negatif.
"Dalam penyusunan awal skenario dan metode stress test, telah ada pembicaraan di level teknis antara BI dan IMF. Dan dalam diskusi penyusunan skenario tersebut, BI sudah sangat berkeberatan apabila skenario risiko yang dipilih adalah sangat ekstrim negatif," papar Difi melalui pesan elektroniknya di Jakarta, Senin (20/09/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Â
Di samping itu, lanjut Difi, pemerintah dan BI tentunya tidak akan tinggal diam jika ekonomi sudah sangat gawat.
"Karena pasti akan mengambil langkah langkah penyelamatan untuk mencegah hancurnya perekonomian. Artinya Pemerintah dan BI pasti bertindak pre emptif untuk mencegah skenario krisis tersebut terjadi," jelasnya.
Dan yang ketiga, menurut Difi, BI juga sangat keberatan jika nantinya hasil stress test ini disalahartikan di kemudian hari.
Oleh karena itu bank sentral menilai hasil stres test yang dilansir bukanlah suatu prediksi (ramalan) tapi adalah gambaran yang terjadi jika ekonomi sudah sangat gawat.Â
"Hasil NPL (rasio kredit macet) yang terjadi akan sangat berbeda kalau baseline skenarionya juga berbeda. Kalau skenarionya lebih positif maka NPL yang dihitung juga akan semakin baik," tambah Difi.
Hasil stress test, sambungnya, juga dapat dibaca dari sisi lain. Difi menjelaskan jika ketahanan perbankan nasional sudah sangat baik sebenarnya karena manajemen risiko yang telah diterapkan.
"Sehingga dalam kondisi ekonomi yang benar benar gawat saja, seperti dalam skenario stress test oleh IMF (GDP negatif, kurs rupiah anjlok), perbankan menghadapi krisis (NPL yang melonjak) yang mana kalau terjadi tidak hanya perbankan tapi sektor keuangan keseluruhan yg akan kolaps. Dan hal ini secara realistis tidak sesuai dengan baseline outlook ekonomi Indonesia ke depan," tukasnya.
(dru/dnl)











































