"Tidak dapat dipungkiri, pasar tenaga kerja internasional memiliki potensi yang sangat besar bagi perekonomian Indonesia untuk memperoleh cadangan devisa. Persaingan untuk menembus pasar tenaga kerja juga semakin kompetitif dimana Indonesia harus bersaing dengan negara lain yang banyak mengirim tenaga kerja ke luar negeri," ujar Kepala Biro Humas Bank Indonesia dalam surrat elektroniknya di Jakarta, Kamis, Kamis (23/09/2010).
Difi menuturkan, pasar tenaga kerja Indonesia selain memiliki potensi yang cukup besar namun juga masih menyisakan berbagai tantangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumlah remittance pada 2005 tercatat sebesar US$ 5,3 miliar, 2006 US$ 5,6 miliar, 2007 US$ 6 miliar, 2008 US$ 6,6 miliar, 2009 US$ 6 miliar, dan sampai semester I-2010 sudah mencapai US$ 3,3 miliar.
Jika dilihat dari kontribusinya terhadap pertumbuhan domestik bruto (GDP), pada 2005 tercatat sebesar 1,8 persen, 2006 1,5 persen, 2007 1,4 persen, 2008 1,3 persen, 2009 1,2 persen, dan sampai pada semester I-2010 sebesar 1 persen.
Sedangkan remittance terhadap cadangan devisa terlihat pada tahun 2005 sebesar 15,3 persen, 2006 13,1 persen, 2007 10,5 persen, 2008 12,8 persen, 2009 10 persen, dan paruh pertama tahun ini mencapai 4,4 persen.
Difi menambahkan, walaupun meningkat Indonesia tidak boleh berpuas diri karena masih banyak potensi yang bisa diraih. Sebagai gambarannya, Filipina, yang merupakan negara pengirim tenaga kerja utama di Asia dan negara berkembang, menghasilkan remittance yang peningkatannya sangat meningkat dari US$ 10,7 miliar pada tahun 2005 menjadi US$ 17,4 miliar dalam tahun 2009, sehingga remittance dari pengiriman tenaga kerja merupakan komponen utama penyumbang devisa bagi Filipina.
"Begitu juga kontribusinya terhadap GDP di Filipina relatif stabil dan sedikit meningkat dari 10,8 persen tahun 2005 dan tahun 2009," tuturnya.
(dru/ang)











































