Demikian diungkapkan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D Hadad kepada detikFinance ketika ditemui dikawasan Kuta, Bali, Selasa (28/09/2010).
"Angka undisbursed loan dengan sistem pelaporan sekarang terbagi dua, yakni committed dan uncommitted. Yang committed hanya sekitar Rp 140 triliun," ujar Muliaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini menjadi kredit yang ternyata sudah disepakati dan harus dicairkan namun hanya menunggu waktu saja," tambahnya.
Sedangkan untuk uncommitted, Muliaman menuturkan jika kredit tersebut sudah di catat di bank namun dapat dibatalkan oleh debitur. "Ini hanya terkait masalah di sistem pelaporan yang saat ini menggunakan PSAK 50-55," jelasnya.
Ia berharap, masyarakat tidak menyalahartikan bahwa kredit yang benar-benar "ngendon" di perbankan sanga besar. "Jadi harus dibedakan antara committed dan uncommited," tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, hingga Juli 2010, jumlah undisbursed loan mencapai Rp 501,03 triliun. Jumlah ini bertambah Rp 16,08 triliun dibanding Juni 2010.
Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia Juli 2010 jumlah kredit yang belum ditarik ini meningkat Rp 216.455. Dari Jumlah di Juli 2009 yang sebesar Rp 284,578 triliun.
Selain itu sampai Juli 2010 jumlah kredit perbankan mencapai Rp 1.597,98 triliun. Naik dibandingkan dengan jumlah kredit perbankan di periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 1.338,116 triliun.
Pada Juli 2010 tersebut, kredit porsi kredit terdiri dari 2 jenis yakni rupiah Rp 1.371,209 triliun dan kredit valas sebesar Rp 226,771 triliun.
Pada bagian lain, Muliaman mengatakan untuk pertumbuhan kredit hingga akhir September 2010 ini sudah mencapai 20,8%. Pertumbuhan kredit year on year mencapai 20,8% di minggu akhir September.
Menurut Muliaman, bank sentral masih optimistis target pertumbuhan kredit 23 - 24% tahun ini bisa dicapai.
"Kita optimistis bisa mencapai 23-24%. Sementara itu pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) juga terus tumbuh dimana secara yoy mencapai 16%," imbuhnya.
(dru/qom)











































