"Dampaknya agak mixed, pertama dengan Jepang menahan apresiasi Yen maka biaya hutang pemerintah dalam Yen menurun karena kita tahu bahwa akibat apresiasi Yen akan membuat utang menjadi mahal," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia , Hartadi Agus Sarwono ketika ditemui di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (05/10/2010).
Selain itu, Hartadi mengungkapkan, dengan penerapan suku bunga yang rendah di negeri bunga Sakura tersebut maka arus aliran modal (inflow) ke Indonesia akan lebih besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jepang yang menurunkan suku bunga, sambung Hartadi, sebagai akibat deflasi yang berlebihan. "Lihat saja bahwa inflasi masih di terjadi deflasi dan inflow ke Jepang besar jadi memang kalau saya jadi Gubernur penurunan suku bunga adalah hal terbaik," tukasnya.
Seperti diketahui, BoJ secara mengejutkan menurunkan suku bunga kuncinya ke kisaran 0% hingga 0,1%. Langkah yang cukup mengejutkan ini ditujukan untuk membangkitkan lagi perekonomian Jepang yang sedang lesu.
Ini merupakan perubahan suku bunga pertama yang dilakukan Jepang sejak Desember 2008. Sejak waktu itu, Jepang menerapkan suku bunga di kisaran 0,1%.
Rapat BoJ juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga rendah 0% hingga 0,1% itu hingga harga-harga mulai menunjukkan kestabilannya.
(dru/ang)











































