Demikian disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Budi Mulya dalam jumpa pers di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (05/10/2010).
"Secara year to date dana asing di rupiah sampai September 2010 mencapai Rp 115 triliun dimana sebanyak Rp 20,5 triliun berada di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) kemudian sebesar Rp 74 triliun berada di SUN dan hampir Rp 21 triliun ke pasar saham," ujar Budi Mulya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tempat yang sama Deputi Gubernur BI, Hartadi Agus Sarwono mengatakan capital inflow yang deras mengalir ke Indonesia tidak perlu dikhawatirkan jika sewaktu-waktu terjadi pembalikan (reversal).
"Pembalikan atau dana asing yang masuk langsung keluar tidak akan terjadi dalam jumlah besar. Semua masih dalam jumlah managable, karena fluktuasi nilai tukar juga tidak besar setelah krisis. Oleh karena itu inflow tidak perlu dikhawatirkan dengan berlebihan," kata Hartadi.
Hartadi mengakui jika instrumen seperti SBI merupakan instrumen yang menarik untuk para investor. "Di tengah-tengah ketidakpastian saat ini SBI terlihat menarik sehingga sangat seksi dilihat investor," katanya.
Namun, menurutnya perlu dikawal dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan. "Jadi tidak semata-mata masuk dan keluar kita coba perpanjang dan lebih baik lagi kalau bisa masuk ke instrumen lain di luar biaya instrumen moneter," tuturnya.
"Maka dari itu jangan semata-mata kita langsung khawatir dengan capital inflow yang cepat berapa besar itu. Intinya bagaimana kita memanfaatkan inflow untuk kegiatan ekonomi khususnya pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan di Indonesia," tukasnya.
(dru/dnl)











































