Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 07 Okt 2010 12:34 WIB

Mengintip Kondisi Bank Nobu 'Mainan' Baru Mochtar Riady

- detikFinance
Jakarta - Mochtar Riady melalui kelompok usaha miliknya, Grup Lippo kembali ke dunia perbankan dengan mengakuisisi Bank NationalNobu (Bank Nobu). Cukup mengejutkan keputusan Lippo untuk mengambil bank tersebut, apalagi melihat ukuran bank yang sangat kecil, bahkan kantornya pun tidak cukup meyakinkan bahwa itu adalah sebuah bank.

Bank Nobu memang sangat kecil dengan kantor pusat bukan di wilayah segitiga emas Jakarta, layaknya bank-bank beken. Kantor pusat Bank Nobu hanyalah sebuah gedung 3 tingkat yang terletak di Gedung Grup Alfindo, di pinggir jalan, Jalan KH Haji Mas Mansyur No 34, Jakarta Barat.

Tulisan Bank National Nobu di gedung itu juga terlihat sudah berkarat dan tertutup oleh atas teras depannya. Sementara di dalam gedung juga tidak terliat ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa itu adalah Bank Nobu.

Saat detikFinance menyambangi kantor pusat bank tersebut pada Kamis (7/10/2010), tidak tampak satpam menjaga gedung tersebut. Dari 3 lantai gedung itu, hanya 2 lantai yang digunakan. Lantai 1 pada gedung tersebut kosong melompong dan hanya ada tangga yang menghubungannya ke lantai 2.

Lantai 2 merupakan pusat aktivitas bank kecil itu. Namun jangan harap Anda akan melihat antrean nasabah dan teler-teler cantik layaknya yang ada di bank-bank lainnya. Di lantai 2 kantor Bank Nobu itu, hanya ada 1 meja kecil customer service yang 'dihiasi' 1 unit komputer yang sudah 'jadul'. Tidak tampak petugas customer service berjaga disitu.

Sementara di teller, Anda akan dilayani oleh seorang laki-laki yang sudah cukup berumur. Saat detikFinance datang, hanya tampak 1 teller laki-laki bernama Kartal dan seorang nasabah laki-laki.

Kartal mengakui, gedung 3 lantai tersebut memang kantor pusat Bank Nobu. Selain itu, ada 3 cabang Bank Nobu lainnya yang ada di wilayah Jatinegara, Mangga Dua dan Cinere.

"Memang begini aktivitasnya, sepi," ujar Kartal.

Sayangnya, ia menolak berkomentar banyak. Manajemen juga menurutnya tidak ada ditempat sehingga tidak bisa memberikan keterangan. Ia pun menyarankan detikFinance untuk menanyakan saja ke Grup Lippo perihal keputusan konglomerasi itu untuk mengakuisisi Bank Nobu.

Bank National Nobu dulunya bernama PT Bank Alfindo Sejahtera. Pada 12 November 2010 bank tersebut menjelma menjadi PT Bank National Nobu. Pada tahun 2007, bank tersebut berada pada urutan terakhir yang memenuhi batas permodalan sebesar Rp 80 miliar sesuai ketentuan Bank Indonesia (BI).

Menurut data Bank Indonesia (BI), aset Bank Nobu mencapai Rp 111,557 miliar hingga semester I-2010. Jumlah kredit yang disalurkan bank tersebut pada periode yang sama adalah Rp 1,315 miliar.

Sementara total dana pihak ketiga (DPK) Bank Nobu sampai semester I-2010 mencapai Rp 23.898 miliar. Namun jumlah modal bank ini sudah mencapai Rp 100 miliar sesuai dengan ketentuan BI. Pada semester I-2010, Bank Nobu mengalami kerugian Rp 12,631 miliar.

Nama Bank Nobu moncer setelah Mochtar Riady melalui Grup Lippo mengumumkan rencananya mengakuisisi bank tersebut. Padahal sejak lama Mochtar vakum dalam dunia bisnis perbankan setelah terpaksa melepas Bank Lippo akibat krisis. Pada tahun 1999, Mochtar Riady yang memiliki Bank Lippo terpaksa harus melepaskan kepemilikan saham mayoritas di tersebut kepada pemerintah terkait dengan rekapitulasi aset bank bermasalah.

Pemerintah harus menggelontorkan dana Rp 6 triliun untuk menyehatkan bank itu sehingga selanjutnya menguasai 59% saham bank tersebut. BPPN selanjutnya melakukan divestasi yang dimenangkan konsorsium Swissasia Global dengan nilai Rp 1,25 triliun. Namun selanjutnya Swissasia melepas kepemilikannya di Bank Lippo kepada Khazanah Berhard, Malaysia senilai US$ 350 juta.

Namun seiring kebijakan kepemilikan tunggal (Single Presence Policy), Khazanah yang juga memiliki Bank Niaga akhirnya melebur kedua bank tersebut menjadi Bank CIMB Niaga.

Mochtar Riady melalui Grup Lippo mengakuisisi Bank Nobu melalui anak usahanya, PT Kharisma Buana Nusantara. Dalam KBN, 60% sahamnya dimiliki Mochtar Riady, pendiri Lippo dan 40% saham dimiliki Yantony Nio CEO Grup Pikko.

Presdir Grup Lippo Theo Sambuaga sebelumnya menegaskan, pihaknya berniat untuk membuat bank kecil itu menjadi besar. Grup Lippo juga berniat menjadikan Bank Nobu sebagai bank milik publik dengan menjualnya ke pasar saham.

(qom/dnl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed