Institute of International Finance memproyeksikan aliran modal ke emerging markets telah mencapai US$ 825 miliar sepanjang tahun ini, naik 30% dibandingkan tahun 2009. Dana-dana tersebut antara lain masuk ke sektor surat berharga Brasil, real estate China, dan pasar saham India.
Kuatnya permintaan di negara-negara berkembang besar seperti Brasil, China, dan India mampu menyedot dana-dana tersebut mengingat pasar 'tradisional' seperti Eropa, Jepang, dan AS kini sedang lesu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Kepala Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) Haruhiko Kuroda mengingatkan, aliran modal yang sangat cepat dan tiba-tiba itu dapat memicu masalah baru terutama dari naiknya harga-harga rumah dan menguatnya mata uang sehingga membuat daya saing ekspor berkurang.
"Uang-uang dalam jumlah yang signifikan telah masuk ke beberapa negara emerging. Jika situasi ini terus meluas, maka pengelolaannya mungkin menjadi lebih sulit," ujar Kuroda dalam wawancaranya dengan AFP, Senin (11/10/2010).
Masalah yang menimpa negara-negara berkembang di Amerika Latin dan Asia tidak hanya sekedar volume yang masuk sangat besar, namun juga akibat jika dana-dana itu tiba-tiba ditarik investor.
"Uang dalam jumlah besar yang mengalir ke negara-negara berkembang adalah jangka pendek, investasi portofolio, pinjaman bank dan lain-lain, yang dapat berbalik dengan cepat," imbuh Kuroda.
Jika perekonomian negara-negara Eropa, Jepang dan AS mulai tumbuh lagi ataupun terjadi krisis lokal, maka gelembung itupun bisa dengan mudah pecah.
Menghadapi risiko-risiko tersebut, sejumlah negara berkembang memang telah mengambil langkah pencegahan. Misalnya saja Brasil yang menaikkan pajak dana-dana asing hingga 2 kali lipat, Korsel dan Kolombia yang melakukan sterilisasi dampak aliran modal asing dengan memborong dolar.
"Kebijakan-kebijakan harus diambil jika penting," imbuh Kuroda seraya mencontohkan sejumlah kisah sukses dari negara-negara.
"Di beberapa negara seperti China, sektor perumahan telah tumbuh dengan sangat cepat dalam beberapa tahun terkahir. Namun meski China dengan beberapa kebijakan yang dibuat oleh pemerintahnya, sektor perumahan terus melakukan penyesuaian," imbuhnya.
Mantan Gubernur Bank Sentral Meksiko Guillermo Ortiz mengingatkan, kebijakan yang diambil pemerintah untuk meredam aliran modal asing tak selalu sukses.
"Brasil menaikkan pajak dari 2% menjadi 4% untuk aliran modal asing dan real mengalami apresiasi," ujarnya.
Namun AS dan Jepang juga bergerak memompakan likuiditas ke perekonomiannya, aliran modal pun mengalir, sehingga apresiasi yang sewajarnya dan intervensi juga meningkat.
"Bank Sentral memompakan likuiditas dalam jumlah yang sangat besar, suku bunga pada tingkat yang rendah sehingga seluruh uang-uang ini menangkap imbal hasil dan selanjutnya mereka pergi ke emerging markets dan semua orang selanjutnya berusaha menghentikan apresiasi mata uangnya," jelas Ortiz.
Menurutnya, sampai masalah ini bisa dipecahkan, maka negara-negara berkembang bakal harus berhubungan dengan volatilitas, tingginya aliran modal dan bank sentral akan menghadapi tekanan politik yang berat untuk mengintervensi.
"Satu-satunya solusi tentu saja memperbarui semangat kerjasama," sarannya.
Sebanyak 187 negara anggota IMF yang melakukan pertemuan akhir pekan ini melihat pentingnya menghadapi tantangan yang besar dari pergerakan pasar modal yang besar dan bergejolak dan dapat mengganggu. (qom/qom)











































