Hal tersebut disampaikan Ekonom Senior Bank Dunia Enrique Blanco Armas dalam teleconferencenya di Gedung BEI, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (19/10/201).
"Arus modal yang deras ini terutama ke pasar finansial Indonesia belum akan mengakibatkan bubble. Karena secara fundamental pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup tumbuh tinggi," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Armas mengatakan langkah Bank Indonesia (BI) dalam menjaga banjirnya aliran modal sudah tepat. Seperti diketahui, BI sebelumnya sudah mengeluarkan kebijakan untuk menjaga uang-uang agar bertahan lama di dalam negeri, salah satunya adalah dengan menjaga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) selama 1 bulan.
"BI perlu meneruskan langkah-langkah seperti one month holding period di SBI dan beberapa kebijakan lain yang untuk memanfaatkan modal masuk," jelasnya.
Namun Ia menilai, bank sentral tidak perlu menggunakan instrumen suku bunga acuan (BI Rate) dalam upaya pengendalian moneternya baik dengan penurunan atau kenaikan suku bunga.
"Jika suku bunga naik pasti arus modal akan terus bertambah deras sebaliknya jika diturunkan pada dasarnya akan menambah peningkatan aset finansial," tuturnya.
Oleh sebab itu, lanjut Armas, cara-cara bank sentral yang salah satunya juga menaikkan GWM Primer cukup aktif menyerap likuiditas yang membanjir akibat inflow.
Sementara itu, Kepala Ekonom The World Bank (Bank Dunia) Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik Vikram Nehru, kuatnya arus modal ke kawasan Asia Timur, termasuk Indonesia terus menyebabkan penguatan nilai tukar.
"Inflow tersebut yang membikin likuditas banjir. Dan salah satu cara yang diperlukan bank sentral adalah tetap melakukan pengetatan kebijakan moneter," tuturnya.
Nehru juga mengakui kalau saat ini memang telah terjadi perang mata uang atau currency war yang menyebabkan otoritas moneter di berbagai negara membutuhkan biaya banyak untuk menahan penguatan mata uangnya.
"Memang ada perang mata uang, kenapa terkesan sebuah perang karena seluruh mata uang selain dollar AS terus menunjukkan penguatannya. Maka dari itu terdapat beban yang berlebih dari masing-masing bank sentral untuk melakukan intervensi," tuturnya.
(dru/qom)











































