BI Panggil Bank Bumiputera Terkait Dana Nasabah di KPD Natpac

BI Panggil Bank Bumiputera Terkait Dana Nasabah di KPD Natpac

- detikFinance
Rabu, 20 Okt 2010 18:01 WIB
BI Panggil Bank Bumiputera Terkait Dana Nasabah di KPD Natpac
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memanggil PT Bank ICB Bumiputera Tbk (BABP) untuk meminta penjelasan soal posisi dana nasabah yang ditempatkan di produk kontrak pengelolaan dana (KPD) PT Natpac Asset Management (NAM).

"Bank Bumiputera sudah kita panggil untuk meminta kejelasan soal dana mereka di KPD Natpac," ujar Kepala Biro Direktorat Perencanaan Strategis dan Humas BI, Difi A Djohansyah saat dihubungi detikFinance, Rabu (20/10/2010).

Difi mengatakan, tujuan pemanggilan adalah untuk mengetahui posisi (exposure) dana nasabah-nasabah Bumiputera yang ditempatkan di produk KPD Natpac. Sebagai catatan, Bank Bumiputera merupakan agen penjual atas bundling produk tabungan investasi duet Bumiputera dan Natpac yang diberi nama Bung Haris Super Fantastik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka (Bumiputera dan Natpac) kan ada kerjasama bundling produk. BI sebagai pengawas perbankan minta mereka jelaskan soal ini. Rupanya, Bumiputera bertindak sebagai penjual KPD Natpac. Nilainya saya kurang tahu persis. Namun penjelasan Bumiputera mengatakan kalau dana mereka belum terkena dampak masalah Natpac," jelas Difi.

Sumber detikFinance menyebutkan, total dana nasabah-nasabah Bumiputera yang ikutan membeli produk Bung Haris Super Fantastik ini mencapai Rp 200 miliar lebih. Itu berarti, dari total nilai KPD Natpac yang sebesar Rp 407 miliar, separuh lebih adalah milik nasabah-nasabah Bumiputera.

Sayangnya, Fund and Fee Base Income Group Head Bumiputera Yose Parlinta tidak mengangkat maupun membalas pesan singkat detikFinance ketika dikonfirmasi mengenai adanya dana nasabah Bumiputera yang ditempatkan di Natpac.

KPD Natpac saat ini diperiksa Bapepam-LK. KPD ini menawarkan imbal hasil (return) sebesar 13% per tahun. KPD tersebut sebesar Rp 333 miliar (81,81%) ditempatkan di proyek tol Mojokerto-Kertosono yang masih dalam penggarapan sehingga belum menghasilkan pendapatan maupun laba bersih. Singkat kata, investasi Rp 333 miliar di proyek tol ini belum bisa memberikan return.

 

 

(dro/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads