IMF 'Ajari' BI Kelola Derasnya Dana Asing

IMF 'Ajari' BI Kelola Derasnya Dana Asing

- detikFinance
Kamis, 21 Okt 2010 17:47 WIB
Jakarta - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) menyarankan Bank Indonesia (BI) agar mengelola arus modal asing masuk (capital inflow) yang mengalir deras ke dalam instrumen moneter jangka panjang. Selain itu, capital inflow akan lebih baik jika didorong untuk membangun infrastruktur dan investasi sektor riil.

Demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif IMF untuk Departemen Asia dan Pasifik, Anoop Singh dalam jumpa pers IMF: Regional Economic Outlook, di Gedung BI, Jakarta, Kamis (21/10/2010).

"Capital inflow saat ini sudah dikelola dengan baik oleh bank sentral. Akan lebih baik jika ditempatkan kepada instrumen jangka menengah atau jangka panjang," ujar Anoop.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, dengan masuknya aliran modal ke instrumen jangka menengah dan jangka panjang akan menahan jika sewaktu-waktu terjadi pembalikan arus modal atau biasa disebut sudden reversal. "Atau jika diarahkan ke pasar obligasi akan membuat pendanaan yang baik," tambahnya.

Ia juga menyarankan, capital inflow yang sangat deras diarahkan untuk investasi di sektor infrastruktur. "Jika infrastruktur tumbuh maka ekonomi juga akan tumbuh terus ke arah yang lebih positif," ungkap Anoop.

Lebih jauh Anoop mengatakan, infrastruktur Indonesia saat ini cenderung bergerak lambat di mana lebih ditopang oleh investasi swasta. "Oleh sebab itu maka menarik dana (inflow) ke arah infrastruktur dan investasi sektor riil akan lebih baik," jelasnya.

Di tempat yang sama Senior Resident Representative IMF untuk Indonesia Milan Zavadjil menuturkan langkah bank sentral sejauh ini sudah sangat tepat. Di mana inflow dikendalikan dengan cukup baik.

"Apalagi cadangan devisa yang cukup besar dan pertumbuhan ekonomi yang baik dapat menahan sisi negatif dari capital inflow," tegasnya.

Namun Milan menilai, bank sentral harus memperhatikan risiko ke depan dari cepatnya pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan kredit, dan kenaikan harga bahan makanan.

"Tetapi dalam waktu dekat ini memang tidak akan terjadi 'bubble' ekonomi di Indonesia. Hal ini karena fundamental yang baik," ungkapnya.

Ke depan, lanjut Milan pertumbuhan ekonomi Indonesia di akhir 2010 akan mencapai angka 6%. "Dan di 2011 akan mencapai 6,2%," tukasnya.
(dru/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads