Saran tersebut disampaikan Miranda di sela acara Seminar Internasional Bank Indonesia di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Jumat (22/10/2010). Dalam kesempatan itu hadir para pejabat BI, mantan pejabat BI, perwakilan IMF dan sejumlah perwakilan bank sentral asing.
"Kalau anda lihat sekarang kan dibandingkan dengan 5 tahun yang lalu sudah jauh lebih banyak berubah. Inflow anda bayangkan yang ke SBI yang dilelang itu volumenya Rp 30 triliunan untuk satu bulan penuh. Sehingga beban untuk SBI satu bulan sampai tiga bulan cukup besar hingga masih puluhan triliunan," urai Miranda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Miranda mengatakan dana di SBI semakin lama jatuh temponya akan semakin baik apalagi jika dimiliki asing. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mengabsorb inflow yang masuk dan tidak keluar cepat. Namun Miranda mengatakan, perlu diingat juga bahwa harus ada instrumen dari pemerintah yang jatuh temponya itu 6 bulan kebawah.
"Makanya perlu diperhatikan apakah akan ada cukup banyak finansial instrumen lainnya. Itu sangat dibutuhkan, misalnya surat utang pemerintah dibawah 3 bulan. Dan itu lebih umum di dunia, bahwa yang dipakai untuk operasional itu adalah bukan dari surat utang bank sentral tapi surat utang dari pemerintah," papar Miranda.
Miranda optimistis kepemilikan SBI dengan tenor 6 bulan keatas masih akan banyak diminati oleh investor. Terutama, lanjut Miranda ketika pembelinya merupakan sebuah bank.
"Bank-bank justru mau me-lock itu (SBI) di jangka panjang jika dengan bunga yang cukup tinggi sekarang," imbuh Miranda.
(dru/qom)











































