Keempat alasan ini disampaikan oleh Ketua Pansus OJK Nusron Wahid saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (25/10/2010).
"Kita sudah tahu banyak yang memberikan masukan kepada DPR, kenapa tidak studi melalui literatur bahkan sampai kepada melalui internet. Kita sudah lakukan itu ternyata masih kurang bahannya," ujar Nusron.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, koordinasi saat krisis ekonomi terjadi. Pansus ingin melihat bagaimana para otoritas keuangan di negara-negara yang memiliki OJK melakukan koordinasi di saat krisis.
Lalu ketiga, Pansus OJK ingin mengetahui langsung kenapa Inggris membubarkan lembaga OJK. "Apakah betul gagal? Atau hanya karena ingtervensi polirik dan apakah karena krisis 2008 kemarin," ucapnya.
Dan keempat, Pansus ingin mengetahui batasan antara makro dan mikro prudential dari kewenangan Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral.
"Semuanya tidak dapat kita cari melalui literatur, bahkan melalui internet. Makanya kita lakukan kunjungan kerja ke negara-negara tujuan untuk bertemu dengan bank sentral, kementerian keuangan, OJK negara tersebut," paparnya.
Lebih lanjut Nusron mengatakan, dengan adanya kunjungan kerja tersebut maka nantinya seluruh hal yang masih menjadi perdebatan di tingkat Pansus OJK akan terjawab melalui kajian yang dilakukan ke negara-negara tersebut.
"Saya paham kritik dari publik, kunjungan tidak semuanya jelek. Mengenai OJK ini kita belajar bagaimana metode dan benchmarking OJK negara tersebut," tukasnya.
Seperti diketahui, pada 30 Oktober 2010 Pansus OJK akan melakukan studi banding ke 4 negara yaitu Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Jerman.
(dru/dnl)











































