Menurutnya, dari total jumah penduduk Indonesia, sebanyak 60% sudah berhubungan sektor keuangan baik formal maupun non formal, secara individu maupun badan usaha. Namun, yang berhubungan langsung dengan bank jumlahnya lebih sedikit, bahkan kurang dari 50 persen.
"Itu sebabnya sudah sejak beberapa bulan lalu BI mulai merancang dan mencari upaya-upaya untuk merangkul, memperkenalkan dan menarik masyarakat kita supaya mau menabung," kata Gubernur BI Darmin Nasution dalam pidatonya di Malam Peduli Konsumen Perbankan di Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (25/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darmin juga mengakui, selama ini bank sentral kurang personal dalam memperhatikan kepentingan dan persoalan konsumen. Sehingga BI harus menjangkau otoritas lainnya seperti Bapepam atau bank yang bersangkutan dalam mencari tahu masalah jika ada pengaduan atau laporan dari nasabah.
"BI juga kurang memonitor dan mengawasi lebih jauh apakah masalah nasabah di suatu bank sudah diselesaikan. Tidak tidak tahu apakah terselesaikan dengan baik atau tidak," imbuhnya.
Menurut Darmin, jika pengawasan dilakukan dengan lebih personal maka masalah bisa lebih cepat diketahui dan diatasi. Sehingga, kasus-kasus bank yang merugikan nasabah, seperi Bank Global dan Bank Century tidak akan terulang.
Dengan adanya pengawasan dan penyelesaian masalah dengan baik, maka akan ada kepercayaan nasabah terhadap industri perbankan bisa kembali tumbuh. Kepercayaan inilah yang menjadi modal dasar yang diperlukan untuk mendorong tingkat tabungan masyarakat.
"Supaya masyarakat yang tidak pernah nabung atau berurusan dengan perbankan bisa mendapatkan kepercayaan dan membuka rekening," ujarnya.
Bukan hanya persoalan edukasi terhadap masyarakat, rencana meningkatkan jumlah penabung juga memerlukan sistem informasi yang baik. Dengan adanya sistem yang baik maka informasi yang diperlukan masyarakat bisa diketahui dengan baik.
"Ini sangat perlu bagi kita untuk mendorong bank minded, karena kalau dibandingkan negara lain tabungan kita ini relatif rendah," ujarnya.
(ang/dnl)











































