Direktur Utama Bank Mutiara Maryono mengungkapkan turunnya laba tersebut dikarenakan belum dimasukkannya penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP) atau biaya pencadangan seperti yang dilakukan di triwulan III-2009.
"Nanti saat PPAP diturunkan menjadi laba, maka Bank Mutiara dapat memperoleh lonjakan laba yang tinggi pada akhir 2010 dengan tetap memiliki kualitas kesehatan yang prima. Oleh sebab itu manajemen tetap optimis laba tahun ini bisa mencapai Rp 273 miliar," ujar Maryono dalam siaran pers yang diterima detikFinance di Jakarta, Jumat (29/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini yang menjadi pendorong perolehan laba," kata Maryono.
Peningkatan kredit tersebut, lanjut Maryono diikuti pula oleh peningkatan dana masyarakat (DPK) yang berhasil dihimpun oleh korporasi dan ritel. Total DPK per 30 September 2010, yang berhasil diraup Bank Mutiara mencapai Rp 7,75 triliun tumbuh 50% dari periode yang sama 2009.
Peningkatan dana masyarakat dan kredit turut meningkatkan aset Bank Mutiara. Total aset Bank Mutiara pada 30 September 2010 turut meningkat mencapai Rp 9,02 triliun atau melonjak sebesar 28% dari posisi 30 September 2009 sebesar Rp 7,04 triliun.
Begitupula, lanjut Maryono rasio likuiditas dan solvabilitas yang semakin membaik ditunjukkan dengan meningkatnya rasio kecukupan modal (CAR) pada 30 September 2010 sebesar 11,5% jauh lebih baik dari periode 30 September 2009 sebesar 10,43 %.
"Peningkatan volume bisnis dan penghimpunan dana masyarakat ini memperlihatkan Bank Mutiara terus memperoleh kepercayaan dari publik. Manajemen akan terus meningkatkan pelayanan dan menjaga kepercayaan publik tersebut," tutur Maryono.
Dari sisi bisnis dan operasional, Maryono mengungkapkan manajemen Bank Mutiara terus melakukan ekspansi terutama dalam pengucuran kredit.
Awal Oktober 2010, Bank Mutiara telah melakukan kesepakatan dengan DPD Perbarindo Jawa Tengah, berupa fasilitas kredit modal dalam bentuk linkage program kepada BPR yang menjadi anggota Perbarindo Jawa Tengah. Pada bulan yang sama, manajemen Bank Mutiara juga telah melakukan kesepakatan dengan PDAM Tirta Mertha Kabupaten Badung, Bali, dengan mengucurkan kredit Kerja Sama-Serbaguna Tanpa Agunan (KKS-STA) kepada anggota Koperasi PDAM tersebut.
"Kerjasama dengan DPD Perbarindo Jawa Tengah merupakan pilot project kami untuk melakukan kerjasama serupa dengan BPR daerah lainnya. Kerjasama ini, merupakan awal dari rencana kami untuk menjadikan Bank Mutiara sebagai Bank Apex," imbuh Maryono.
(dru/qom)











































