Demikian disampaikan oleh Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Perry Warjiyo ketika ditemui di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (05/10/2010).
"Proyeksinya bisa saja tembus sampai US$ 100 miliar di akhir 2010. Dan bisa menutupi impor dan biaya utang luar negeri ," ujar Perry.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau terjadi krisis maka bisa ditalangi dengan biaya tadi. Kita terus menghitung juga risiko yang bisa timbul ke depan. Kalau terjadi seperti Yunani misalnya kemarin, nilai tukar kita tembus Rp 11.000/US$ dan seperti tahun 1997/98 di mana nilai tukarnya kita Rp 13.000/US$, maka itu kerugian yang harus ditanggung kalau kita tidak punya cadangan devisa yang kuat," papar Perry.
Ia menambahkan, akumulasi cadangan devisa tergantung dari level cadangan devisa masing-masing negara. Khusus Indonesia, lanjut Perry lebih banyak untuk self insurance dulu.
"Kita menumpuk dahulu untuk jaga-jaga bila terjadi sudden reversal hingga kemudian penanaman memang lebih banyak di cadangan devisa yang sewaktu-waktu bisa digunakan dan juga bila terjadi sesuatu tidak menimbulkan kerugian yang besar," tuturnya.
Seperti diketahui cadangan devisa Indonesia per akhir Oktober 2010 sudah tembus ke level US$ 91,8 miliar. Hal tersebut didorong oleh aliran modal masuk yang cukup deras.
(dru/dnl)











































