Demikian disampaikan oleh Direktur Operasional BRI Sarwono Sudarto dalam konferensi persnya di sela acara Investor Summit and Capital Market 2010 di Ritz Carlton Pacific Place, SCBD Sudirman, Jakarta, Rabu (10/11/2010).
"Kita memang tidak ada masalah, karena siap untuk memberikan pelayanan bagi nasabah karena memang 22 kantor BRI mengalami kerusakan di kawasan yang dekat Merapi," ujar Sarwono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Sarwono mengatakan, BRI saat ini belum fokus untuk melakukan penghitungan kerugian akibat adanya bencana tersebut. Namun pihaknya sudah siap melakukan restrukturisasi kredit bagi debitur yang mengalami bencana.
BRI mempunyai outstanding kredit di beberapa wilayah bencana antara lain Merapi sebesar Rp 1 miliar dan MentawaiΒ Rp 300 juta. "Namun masih harus dilihat lebih jauh dahulu berapa potensial loss-nya. Tetapi kita belum fokus ke situ kita sementara ini memberikan bantuan terlebih dahulu," tukasnya.
BRI Targetkan Pertumbuhan Kredit 22% di 2010
Pada kesempatan yang sama Managing Director BRI Achmad Baiquini mengatakan BRI menargetkan pertumbuhan kredit di 2011 mencapai 22%. "Kita sesuaikan dengan kondisi perekonomian terlebih dahulu namun rata-rata kisarannya kredit bisa tumbuh antara 20-22%," katanya.
Untuk mendukung ekspansinya, BRI telah memasukkan rencana penerbitan obligasi subordinasi (subdebt) senilai US$ 200 juta.
"Jadi kita lihat terlebih dahulu bagaimana di 2011. Seandainya diperlukan subdebt tersebut ya akan kita lakukan," ungkapnya.
Subdebt dalam bentuk dolar AS tersebut rencananya akan menambah Rasio Kecukupan Modal (CAR) BRI sebesar 0,5%.
"Saat ini CAR BRI kan 13,5% nah kita akan maintain di 14% jadi sewaktu-waktu diperlukan akan kita terbitkan subdebtnya," kata Baiquni.
(dru/dnl)











































